Jasad seorang mantan perwira intelijen Suriah ditemukan di Lebanon. Ia adalah Ghassan al-Sukhni, sosok yang dikenal dekat dengan lingkaran dalam rezim Bashar al-Assad. Kabar kematiannya ini menguak kembali jejak para pendukung setia Assad yang diduga bersembunyi di negara tetangga itu.
Menurut laporan AFP, Rabu (24/12/2025), tubuh Sukhni sudah ditemukan sejak Selasa lalu. Ini konfirmasi pertama setelah Assad digulingkan Desember tahun lalu bahwa mantan pejabat rezimnya ternyata memang ada di Lebanon. Banyak orang di Suriah sendiri sudah lama menduga hal serupa.
Lokasinya di daerah Kesrwan, tak jauh dari rumah yang ditinggalinya, di kawasan utara Beirut. Keadaan di sekitar temuan jenazah itu masih diselidiki.
Tak butuh waktu lama bagi otoritas setempat untuk bertindak. Angkatan Darat Lebanon, lewat sebuah pernyataan, menyebut telah menangkap seorang tersangka. Motifnya, kata mereka, bermula dari “perselisihan keuangan”.
“Ia mencari suaka di Lebanon setelah rezim Assad jatuh,” ujar seorang pejabat peradilan yang mengetahui kasus ini.
Pejabat itu juga menegaskan bahwa Sukhni bukan orang sembarangan. Dia mantan perwira intelijen yang punya hubungan erat dengan Suhail al-Hassan.
Nama Suhail al-Hassan sendiri cukup terkenal. Dia dijuluki “Harimau”, komandan pasukan khusus di era Assad yang sering disebut sebagai “prajurit favorit” sang mantan penguasa. Di bawah komandonya, pasukan pemerintah mencetak kemajuan-kemajuan militer penting sekitar tahun 2015, di tengah hiruk-pikuk perang saudara.
Keterkaitan ini mengingatkan pada masa lalu yang kelam. Keluarga Assad dulu punya pengaruh sangat besar di Lebanon, mengendalikan banyak hal selama puluhan tahun. Mereka pun dituding berada di balik sejumlah pembunuhan terhadap pejabat Lebanon yang vokal menentang Damaskus.
Memang, hubungan kedua negara kini berusaha dibangun ulang. Sejak Assad tidak berkuasa lagi, Beirut dan Damaskus sama-sama ingin membuka lembaran baru. Namun begitu, beberapa persoalan masih menggantung. Misalnya, tuntutan Suriah agar Lebanon membebaskan warga negaranya yang ditahan di penjara-penjara sana. Poin itu masih jadi bahan perdebatan sengit.
Kematian Ghassan al-Sukhni, dengan segala latar belakangnya, seperti mengingatkan bahwa masa lalu tak mudah dilupakan begitu saja.
Artikel Terkait
Wakil Ketua MPR Desak Penguatan Link and Match Pendidikan-Industri Atasi Pengangguran
Produksi Rokok Kretek Anjlok 3%, Gappri Soroti Kenaikan Cukai dan Daya Beli
Polairud Polda Riau Gagalkan Penyelundupan 18 Warga Myanmar di Dumai
Trump Ancam Tunda Pembukaan Jembatan Internasional Gordie Howe