Bayi Dua Pekan di Gaza Gugur Bukan oleh Peluru, Tapi oleh Dingin yang Menggigit

- Minggu, 21 Desember 2025 | 22:15 WIB
Bayi Dua Pekan di Gaza Gugur Bukan oleh Peluru, Tapi oleh Dingin yang Menggigit

Musim dingin di Gaza kali ini terasa lebih menusuk dari biasanya. Di balik gencatan senjata, serangan besar-besaran Israel telah meninggalkan luka yang dalam. Bagi para pengungsi, bertahan hidup bukan cuma soal menghindari peluru, tapi juga melawan dingin yang kejam. Seperti yang dialami Eman Abu al-Khair. Perempuan 34 tahun itu harus merelakan bayinya pergi untuk selamanya, korban hipotermia di tengah pengungsian.

Menurut laporan Al-Jazeera, Minggu (21/12/2025), Eman masih terus menangis. Tangannya menggenggam erat sebuah tas kecil berisi pakaian bayinya, Mohammed, yang hanya sempat menghirup udara dunia selama 14 hari. Rasa tak percaya masih menyelimutinya.

"Aku masih bisa mendengar tangisan kecilnya di telingaku. Aku tidur dan terlelap, tidak percaya bahwa tangisannya dan membangunkanku di malam hari tidak akan pernah terjadi lagi,"

kata Eman, suaranya tercekat.

Semua bermula pada larut malam tanggal 13 Desember di al-Mawasi, kawasan di barat Khan Younis. Keluarga ini baru saja tiba, mengungsi dari rumah mereka di timur Khan Younis yang sudah rata dengan tanah. Malam itu, setelah menidurkan Mohammed, Eman terbangun dan langsung memeriksa buah hatinya. Jantungnya langsung berdebar kencang.

Suhu telah anjlok. Di dalam tenda pengungsian yang bocor, hampir tak ada perlindungan yang layak untuk bayi baru lahir. Tidak ada pakaian hangat yang memadai.

"Tubuhnya dingin seperti es. Tangan dan kakinya membeku, wajahnya kaku dan kekuningan, dan dia hampir tidak bernapas," kenang Eman dengan pilu. "Saya segera membangunkan suami saya agar kami bisa membawanya ke rumah sakit, tetapi ia tidak dapat menemukan alat transportasi untuk membawa kami ke sana."

Situasi saat itu benar-benar mustahil. Hujan deras mengguyur tanpa ampun, gelap malam menyelimuti. Sang ayah berusaha, tapi bahkan berjalan kaki pun nyaris tak mungkin dilakukan.

Baru saat fajar menyingsing, mereka bisa bergegas. Dengan menumpang gerobak yang ditarik hewan, mereka meluncur ke rumah sakit. Tapi segalanya sudah terlambat.

"Kondisinya sudah kritis," ucap Eman.

Staf medis di Rumah Sakit Bulan Sabit Merah di Khan Younis dibuat terkejut. Wajah bayi malang itu telah membiru, tubuhnya kejang-kejang. Dokter langsung membawanya ke unit perawatan intensif anak. Dua hari Mohammed bertarung dengan bantuan ventilator. Nyawanya tak tertolong. Ia menghembuskan napas terakhir pada 15 Desember.

Dengan air mata yang tak henti mengalir, Eman bersikeras, "Bayi saya tidak memiliki masalah medis. Hasil tesnya tidak menunjukkan penyakit apa pun. Tubuh mungilnya tidak mampu menahan dingin yang ekstrem di dalam tenda."

Kementerian Kesehatan Gaza kemudian mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka mengonfirmasi kematian seorang bayi akibat penurunan suhu tubuh parah atau hipotermia akut, dipicu cuaca ekstrem dan kondisi hidup yang keras. Bayi itu adalah Mohammed Khalil Abu al-Khair, berusia dua minggu.

"Anak itu, Abu al-Khair, tiba di rumah sakit dua hari yang lalu dan dirawat di unit perawatan intensif, tetapi ia meninggal kemarin," bunyi pernyataan kementerian.

Kematian Mohammed ini bukan yang pertama. Sejak bulan ini saja, setidaknya sudah empat anak di Gaza menjadi korban keganasan cuaca dingin. Tiga di antaranya dilaporkan meninggal pada minggu sebelumnya. Sebuah angka yang mungkin masih akan terus bertambah, selagi musim dingin dan kepedihan terus berlanjut.

Komentar