Di tengah riuh Rapimnas Golkar, Sabtu lalu, Bahlil Lahadalia berbicara blak-blakan. Ketua Umum partai itu menyentil soal masa jabatan seorang pemimpin. Menurutnya, tak ada yang abadi. "Harus ada ruang untuk generasi baru," begitu kira-kira pesannya.
Acara yang digelar di DPP Partai Golkar itu bukan sekadar formalitas. Bahlil, yang juga menjabat Menteri ESDM, membuka pembicaraan dengan penegasan. Dia bersumpah tak akan pernah memakai partai untuk mengurusi kepentingan pribadinya, apalagi bisnis.
"Insyaallah, jadi ketum Partai Golkar ini, saya nggak akan pernah minta partai urus urusan saya. Urusan bisnis saya? Jauh-jauh deh. Nggak pernah," tegas Bahlil di hadapan para kadernya.
Dia mengaku bukan tipe orang yang mau diurus. Sejak kecil, mentalnya justru sebaliknya. "Saya dilahirkan bukan untuk diurus, tapi untuk mengurus," ucapnya singkat.
Namun begitu, di balik sikap tegasnya, Bahlil rupanya banyak belajar dari para senior. Sebut saja Agung Laksono, Zainudin Amali, dan Freddy Latumahina yang hadir saat itu. Dari merekalah dia dapat wejangan berharga tentang batas waktu kepemimpinan.
"Saya selalu diingatkan Pak Agung, Pak Zainuddin, Pak Freddy. Setiap pemimpin punya masanya. Dan setiap masa punya pemimpinnya," tutur Bahlil menirukan ajaran para sesepuh.
Lalu dia menambahkan dengan nada lebih cair, "Jangan slogan itu cuma untuk senior saja. Giliran adik-adik yang jadi ketum, malah merasa jabatannya kekal. Nggak boleh, ya nggak boleh lah."
Di sinilah poin utamanya. Di hadapan para senior itu, Bahlil menegaskan bahwa yang mengelola partai sekarang adalah generasi baru. Dia mengajak semua pihak fokus dan memberi ruang.
"Jangan teorinya cuma buat Abang-abang. Terus kita yang memimpin, masih dikontrol seperti masih jadi ketum? Nggak bisa. Ini kan generasi baru Golkar," lanjutnya bersemangat.
Untuk menggambarkan dinamika kepemimpinan, Bahlil punya analogi yang cukup nyeleneh: sopir angkot. Menurutnya, partai harus berani berubah, dan soal waktu tak ada yang bisa menduga.
"Sopir angkot sama kondekturnya itu, mau berhenti di mana cuma dia dan Tuhan yang tahu. Lampu sein-nya mau ke kiri atau kanan, ya misteri," ujarnya disambai tawa.
Dan dia menutup dengan kalimat yang terdengar seperti tantangan sekaligus pengakuan. "Saya cuma menyampaikan. Tapi kalau mau diuji, silakan. Kami ini nothing to lose soalnya," pungkas Bahlil.
Artikel Terkait
Bareskrim Amankan Lima Orang dalam Peredaran Gelap Cytotec di Bogor
Megawati Bangga Jadi Juri, NU-Muhammadiyah Raih Penghargaan Perdamaian Global
Ribuan Lubang Menganga, Anggota DPRD Soroti Kerapuhan Jalan Jakarta Pascabanjir
Andre Rosiade Dorong Trase Baru Tol Padang-Pekanbaru Lewat Belakang Gunung Marapi