Setelah kurang dari sebulan menjabat, pemerintahan baru Bolivia mengambil langkah berani. Mereka memutuskan untuk mengakhiri subsidi bahan bakar yang sudah jadi kebijakan negara selama dua puluh tahun. Langkah ini, tentu saja, bakal mengubah banyak hal.
Selama dua dekade, harga BBM di negara Amerika Latin itu nyaris tak berubah. Itu adalah warisan dari era kepemimpinan sayap kiri sebelumnya. Namun begitu, kondisi keuangan negara sekarang dinilai sudah tidak lagi memungkinkan untuk meneruskan kebijakan itu. Pemerintah berargumen, langkah pencabutan subsidi ini penting untuk menyehatkan kembali kas negara.
Presiden Rodrigo Paz, figur konservatif pro-bisnis yang menang pemilu Oktober lalu, secara resmi mengumumkan keputusan ini.
"Dengan diterbitkannya dekrit ini, harga baru untuk hidrokarbon akan diumumkan," ujarnya.
Ditemani para menteri dalam pidato televisi Rabu lalu, Paz berusaha melunakkan dampak pengumuman itu. Ia menegaskan bahwa langkah ini bukan bentuk pengabaian terhadap rakyat.
"Menghapus subsidi yang dirancang buruk dari masa lalu bukan berarti pengabaian. Itu berarti ketertiban, keadilan, redistribusi yang jelas," tambahnya.
Selama ini, situasinya memang rumit. Pemerintah Bolivia bertindak sebagai importir utama bensin dan solar. Mereka membeli dengan harga pasar internasional, lalu menjualnya kembali ke dalam negeri dengan harga yang lebih murah alias merugi. Skema ini lama-kelamaan menggerogoti cadangan devisa.
Akibatnya, negara itu menghadapi krisis ekonomi terparah dalam empat puluh tahun terakhir. Cadangan dolar AS menipis drastis karena terus dikuras untuk menutup selisih harga BBM.
Dampaknya sudah terasa di lapangan. Sejak tahun lalu, antrean panjang di SPBU jadi pemandangan yang terlalu biasa. Kurangnya pasokan membuat pengendara harus rela mengantre berjam-jam. Bahkan, tak jarang, mereka menunggu berhari-hari hanya untuk mendapatkan beberapa liter bensin. Situasi yang melelahkan dan memicu ketidakpuasan.
Kini, dengan dekrit baru itu, era antrean panjang mungkin akan berganti dengan era harga baru. Rakyat Bolivia bersiap untuk babak berikutnya.
Artikel Terkait
Mitra Statistik BPS 2026 Wajib Unggah Pakta Integritas, Gaji Diperkirakan Rp3–5 Juta per Bulan
Sapi Kurban Lepas dan Mengamuk di Minimarket Bogor, Kerugian Capai Rp3 Juta
Honda Resmi Luncurkan Mobil Listrik Super-One di Jepang, Punya Mode Boost Bertenaga 93 dk
Presiden Prabowo dan Wapres Gibran Serahkan Sapi Kurban ‘Si Loreng’ dan ‘Wirabumi’ ke Masjid Istiqlal