BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi Ancam Perairan Sumatera Utara

- Senin, 15 Desember 2025 | 01:45 WIB
BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi Ancam Perairan Sumatera Utara

Cuaca di perairan Sumatera Utara tampaknya akan kurang bersahabat dalam beberapa hari ke depan. BMKG baru saja mengeluarkan peringatan dini soal potensi gelombang tinggi yang patut diwaspadai.

Menurut keterangan dari Stasiun Meteorologi Maritim Belawan, gelombang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi mulai hari ini, Senin (15/12/2025), dan berlangsung hingga Rabu depan. Wilayah yang perlu bersiap antara lain perairan barat Kepulauan Nias, perairan barat Kepulauan Batu, serta kawasan Samudra Hindia di barat Kepulauan Nias.

Prakirawan BMKG, Rizky Ramadhan, yang berbasis di Medan, menegaskan hal itu.

"Kondisi gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter tersebut berpotensi terjadi 15 hingga 17 Desember 2025," ujarnya.

Pemicu kondisi ini tak lain adalah aktivitas siklon tropis dan bibit siklon di Samudra Hindia. Ada Siklon Tropis Bakung yang berkeliaran di barat daya Lampung, belum lagi dua bibit siklon lainnya yang terpantau dekat Bengkulu dan selatan Jawa Timur. Mereka inilah yang mendongkrak kecepatan angin dan akhirnya menciptakan ombak-ombak besar.

Secara umum, angin di utara Indonesia bergerak dari barat laut ke timur laut dengan kecepatan 4-20 knot. Sementara di bagian selatan, angin bertiup dari barat daya ke barat laut, lebih kencang lagi, bisa mencapai 6-25 knot.

Nah, dengan kondisi seperti ini, BMKG pun mengingatkan semua pihak yang berkepentingan untuk ekstra hati-hati. Risikonya nyata, terutama untuk transportasi laut.

Untuk perahu nelayan, misalnya, gelombang setinggi 1,25 meter dengan angin 15 knot saja sudah cukup berbahaya. Kapal tongkang perlu waspada saat angin mencapai 16 knot dan gelombang 1,5 meter. Sementara untuk kapal feri, risiko keselamatan meningkat signifikan jika menghadapi angin 21 knot dan ombak setinggi 2,5 meter.

Intinya, laut sedang tidak ramah. Lebih baik bersiap dan menunda pelayaran jika tidak terlalu mendesak.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar