Di tengah bayang-bayang perlambatan ekonomi global, industri penjualan langsung justru dipandang punya peluang besar. Bahkan, bisa jadi penopang penting bagi perekonomian nasional. Pandangan ini disampaikan Bambang Soesatyo, atau yang akrab disapa Bamsoet, dalam acara APLI Awards 2025 di Jakarta, Sabtu malam kemarin.
Menurutnya, model usaha ini relatif lebih adaptif. Sementara banyak sektor formal tertekan, penjualan langsung justru tetap bergerak. Fleksibilitas waktu dan modal yang tak terlalu besar jadi keunggulannya. Kemampuan menjangkau konsumen secara personal juga menjadi nilai lebih.
"Direct selling memberi peluang bagi masyarakat untuk tetap produktif dan memperoleh penghasilan tanpa terikat jam kerja kaku," ujar Bamsoet.
Ia melanjutkan, "Di saat lapangan kerja formal menyempit, direct selling hadir sebagai alternatif nyata. Jutaan orang bisa tetap bergerak, tetap berpenghasilan, dan tetap berkontribusi pada ekonomi."
Angka-angka yang ia paparkan cukup mencengangkan. Data Kementerian Perdagangan menyebut, industri ini melibatkan sekitar 5,3 juta mitra usaha di tanah air. Kontribusinya terhadap penerimaan negara? Lebih dari Rp 16 triliun. Tak main-main.
Kalau melihat peta global, skalanya lebih besar lagi. World Federation of Direct Selling Associations mencatat nilai penjualan langsung dunia tahun lalu mencapai sekitar 164 miliar dolar AS. Jumlah distributor independennya melampaui 104 juta orang.
Ada satu fakta menarik lainnya. Lebih dari 72 persen pelakunya di dunia adalah perempuan. "Artinya, sektor ini juga berperan besar dalam pemberdayaan ekonomi keluarga," kata Bamsoet. Ia menekankan, industri ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya luas sekali.
Kekuatan utamanya memang terletak pada daya serap tenaga kerja. Ibu rumah tangga, mahasiswa, hingga pelaku usaha mikro bisa masuk dengan mudah. Prosedurnya tidak berbelit. Selain dapat penghasilan, mereka juga mendapat pengalaman berharga soal kewirausahaan mulai dari cara memasarkan produk, berkomunikasi, hingga mengelola jaringan.
Namun begitu, Bamsoet mengingatkan. Potensi besar ini harus diimbangi dengan tata kelola yang sehat. Pertumbuhan industri, katanya, jangan hanya dilihat dari jumlah mitra yang bertambah. Yang lebih penting adalah kuatnya penjualan produk nyata dan kepuasan konsumen yang terjaga.
Lalu, bagaimana masa depannya? Menurut politisi Golkar ini, ada tiga hal kunci: inovasi, kepercayaan, dan pertumbuhan berkelanjutan. Inovasi dibutuhkan agar bisa bersaing di era digital. Kepercayaan adalah fondasi agar masyarakat mau terlibat. Sementara pertumbuhan berkelanjutan memastikan manfaatnya dirasakan banyak pihak, bukan hanya segelintir orang.
"Jika dikelola dengan benar, direct selling bisa menjadi salah satu pilar ekonomi inklusif Indonesia," pungkasnya. Bukan sekadar sarana jualan, tapi wadah pemberdayaan yang riil di tengah tantangan global.
Acara malam itu juga dihadiri sejumlah pejabat dan pengurus asosiasi. Di antaranya Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Iqbal Soffan Shofwan, Direktur Bina Usaha Perdagangan Septo Soepriyatno, serta Ketum APLI Andam Dewi dan Sekjen APLI Ina Rachman.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi