Di Balai Kota Jakarta, Minggu lalu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui sebuah tantangan berat yang dihadapi ibukota. Ketimpangan antara si kaya dan si miskin, yang diukur dengan Gini Ratio, ternyata sangat sulit ditekan. Padahal, menurutnya, gap itu terasa begitu nyata dan lebar.
“Dalam kepemimpinan saya, salah satu persoalan serius Jakarta adalah Gini Ratio atau kemiskinan ini,” ujar Pramono, Sabtu (13/12).
“Perbedaan antara orang kaya dan miskinnya masih tinggi,” lanjutnya.
Yang menarik, sejumlah indikator ekonomi lain justru menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi bergerak baik, inflasi terkendali, angka kemiskinan dan pengangguran pun turun. Namun begitu, satu garis itu tak kunjung turun: ketimpangan.
“Hampir semua indikasi membaik,” tuturnya, “tapi Gini Ratio-nya enggak.”
Lalu apa artinya? Bagi Pramono, jawabannya sederhana namun kompleks. Situasi ini menandakan bahwa populasi orang kaya di Jakarta memang sangat besar. “Kenapa? Artinya orang kaya di Jakarta ini banyak banget,” ucapnya blak-blakan.
Di sisi lain, harapannya tetap ada. Gubernur bertekad untuk mengurai benang kusut ini selama masa jabatannya. Ia kerap mengingatkan persoalan ini di berbagai forum, menunjukkan keseriusannya.
“Saya pengin betul Gini Ratio di Jakarta itu menurun,” harap Pramono.
Artikel Terkait
Penembakan di Dekat Gedung Putih: Secret Service Lumpuhkan Terduga Pelaku, Seorang Anak Terluka
Kampus Diminta Bentuk Tim Ahli untuk Bantu Kepala Daerah Selesaikan Masalah Lokal
Iran Ancam Serang Pasukan AS Jika Masuki Selat Hormuz, Trump Umumkan Rencana Pengawalan Kapal
Teater Kabaret Anak Disabilitas Meriahkan Hardiknas di Lampung, Buktikan Keterbatasan Bukan Penghalang Berkarya