WO Ayu Puspita Tertibkan Janji Palsu, Konsumen dan Vendor Sama-Sama Tertipu

- Selasa, 09 Desember 2025 | 17:15 WIB
WO Ayu Puspita Tertibkan Janji Palsu, Konsumen dan Vendor Sama-Sama Tertipu

Kasus penipuan yang melibatkan wedding organizer Ayu Puspita ternyata lebih kompleks dari yang diduga. Polisi kini menyelidiki lebih dalam, tidak hanya soal katering yang mangkir di hari pernikahan, tapi juga berbagai perlengkapan resepsi lain yang ternyata cuma janji di atas kertas.

Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Erick, mengonfirmasi hal ini. Menurutnya, janji-janji si pelaku ternyata banyak yang tak ditepati.

"Tidak hanya katering, tapi ada beberapa item dari perlengkapan resepsi itu yang tidak terpenuhi oleh pelaku," ujar Erick, Selasa (9/12/2025).

Artinya, para korban sudah membayar, namun peralatan yang dijanjikan tak kunjung datang. Onkoseno Sukahar, Kasat Reskrim Polres setempat, menegaskan hal serupa. Korban sudah mengeluarkan uang, tapi barangnya nihil.

Yang menarik, ternyata bukan cuma konsumen yang dirugikan. Jaringan penipuan ini juga menjerat para vendor alias rekanan WO tersebut. Ada sejumlah vendor yang sampai sekarang belum dibayar jasanya oleh Ayu Puspita.

"Nah itu termasuk juga ada," jelas Onkoseno. "Tadi ada dari salah satu vendor yang melaporkan belum dibayar juga. Itu ada susulan. Jadi, selain korban ini, selain konsumen, juga ada juga dari pihak vendor."

Laporan pertama sendiri masuk ke Polres Metro Jakarta Utara setelah sepasang mempelai mengalami mimpi buruk di hari bahagianya. Bayangkan saja, segala persiapan sudah matang, tamu undangan sudah datang, tapi makanan yang dipesan untuk resepsi tak kunjung tiba. Sungguh situasi yang memalukan dan menyakitkan.

Kapolres Erick memaparkan kronologi awalnya. "WO ini sudah menerima uang untuk melaksanakan acara pernikahan atau resepsi, kemudian pada hari H-nya tidak terlaksana sesuai dengan kesepakatan. Salah satu contoh yaitu makanan yang harusnya dihadirkan pada saat pesta tersebut tidak datang," tuturnya pada Senin (8/12).

Kekecewaan yang bertumpuk akhirnya meledak menjadi laporan resmi. Tak cuma satu atau dua orang, beberapa korban dengan pengalaman serupa sudah berani melapor. Tekanan dan komplain yang terus mengalir memaksa mereka untuk mengambil langkah hukum.

"Sehingga menimbulkan komplain dari para korban, dan korban membuat laporan polisi ke Polres Metro Jakarta Utara," pungkas Erick.

Kini, polisi masih merangkai semua modus dan menghitung total kerugian. Dari konsumen sampai vendor, lingkaran masalahnya semakin jelas terlihat.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar