Usai Perayaan Natal Tiberias, Kemacetan Parah Melumpuhkan Kawasan Senayan

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 23:40 WIB
Usai Perayaan Natal Tiberias, Kemacetan Parah Melumpuhkan Kawasan Senayan

Malam tadi, riuh rendah perayaan Natal Tiberias 2025 akhirnya berakhir di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Suasana bubaran massal itu langsung berimbas ke jalanan sekitar Senayan. Macet. Arus kendaraan nyaris tak bergerak.

Pantauan di lokasi menunjukkan, para jemaat mulai membanjiri keluar dari stadion sekitar pukul sepuluh lewat empat puluh sembilan menit. Mereka berduyun-duyun menuju area parkir yang sudah disiapkan, memenuhi trotoar dan pelataran. Lalu lintas pun mulai tersendat.

Tak butuh waktu lama, kemacetan merambat ke sejumlah ruas jalan utama. Jalan Gerbang Pemuda dan Jalan Asia Afrika adalah yang paling parah. Kendaraan dari arah Gatot Subroto yang hendak menuju Asia Afrika terjebak antrean panjang. Begitu pula sebaliknya.

Di sisi lain, situasi di Jalan Asia Afrika tak kalah kacau. Kemacetannya merayap dari persimpangan Gerbang Pemuda hingga ke arah Jalan Patal Senayan. Mobilitas benar-benar lumpuh.

Memang, puncak kerumunan jemaat jadi penyebab utama. Namun begitu, masalah diperburuk oleh banyaknya kendaraan yang seenaknya parkir di bahu jalan. Petugas kepolisian terlihat sibuk mengurai kemacetan, mengatur arus yang semrawut itu.

Perayaan yang digelar sejak sore itu sendiri berlangsung meriah dan dihadiri ribuan orang. Yang menarik, acara ini juga kedatangan tamu penting: Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar.

Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin menekankan bahwa kehadirannya adalah wujud nyata merayakan perbedaan.

"Malam ini betul-betul kita merayakan perbedaan, inilah Indonesia. Di tempat lain, di negara lain, perbedaan itu sumber konflik. Tetapi kita di Republik Indonesia ini, perbedaan itu adalah sebuah lukisan Tuhan yang sangat indah,"

Begitu katanya, Sabtu (6/12) malam. Dia menggambarkan Indonesia sebagai kanvas indah ciptaan Tuhan, tempat berbagai elemen hidup berdampingan. Menurutnya, lukisan ini tak boleh dirusak oleh siapapun.

Lebih lanjut, Nasaruddin menyebut momen kebersamaan ini sebagai bentuk silaturahmi yang hakiki. Ada ikatan batin, katanya, yang menguatkan rasa persaudaraan di tengah keberagaman.

"Hari ini kita semuanya berkumpul dalam rangka mempererat hubungan silaturahmi antara satu sama lain di antara kita semuanya. Inilah makna suasana keberagamaan, hubungan batin antara satu sama lain, luar biasa ditampilkan di Indonesia,"

Acara pun berakhir dengan damai. Meski meninggalkan jejak kemacetan yang panjang, nuansa kebersamaan dan pesan toleransi itu yang lebih terasa mengendap.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar