Suasana Jorong Toboh di Nagari Malalak Timur masih terasa tenang Rabu sore itu. Sawah menghijau, beberapa petani menjemur kayu manis di tepi jalan, dan celoteh anak-anak sesekali terdengar. Fendi, warga setempat, sama sekali tak menduga bahwa ketenangan itu akan luluh lantak hanya dalam hitungan menit.
Semuanya berubah sekitar pukul tiga sore. Dari arah perbukitan, terdengar suara letupan keras, mirip petir yang terus-menerus. Fendi langsung waspada. Ia menoleh ke arah bukit, dan di sanalah ia melihatnya: gulungan air besar berwarna putih, membawa kayu dan material lainnya, meluncur deras menghantam segala sesuatu di depannya. Galodo. Banjir bandang itu datang begitu cepat.
Dia spontan berteriak sekencang-kencangnya, memperingatkan tetangga untuk segera menyelamatkan diri. "Saya melihat langsung dari bukit itu air berwarna putih dan kayu-kayu mulai meluncur deras. Saya berusaha meneriaki warga agar segera menyelamatkan diri," kenang Fendi.
Bersama beberapa warga lain, ia berlari mencari tempat yang lebih tinggi. Napasnya tersengal, jantung berdebar kencang. Dari titik aman itu, pemandangan yang disaksikannya sungguh memilukan. Perkampungan yang baru saja damai, seketika berubah jadi lautan lumpur dan puing. Jeritan panik masih terdengar menyayat.
Namun begitu, rasa takut itu tidak melumpuhkannya. Justru sebaliknya. Ada dorongan kuat dari dalam dirinya untuk turun dan menolong. Dengan langkah pasti, pria berusia kepala lima ini kembali mendekati area yang terendam untuk mengevakuasi korban.
Aksi yang dilakukannya bahkan di luar dugaan. Dalam kepanikan itu, tanpa pikir panjang, Fendi mampu menggendong dua ibu-ibu sekaligus menyelamatkan mereka dari terjangan air. "Terus terang saja, saya sampai tidak percaya sore itu saya sanggup menggendong dua perempuan yang bobot badannya jauh lebih besar dari saya," ujarnya.
Dia menghela napas. "Mungkin ini kuasa Tuhan."
Kini, dusun di Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat itu tinggal kenangan pahit. Fendi dan warga lainnya hanya bisa memandang sisa-sisa kehancuran. Rutinitas yang hilang, rumah yang ambruk, dan trauma yang dalam. Tapi di tengah semua itu, keberanian seorang Fendi menjadi cerita kecil tentang kemanusiaan yang tetap menyala, bahkan di saat segalanya berantakan.
Artikel Terkait
Kemensos dan Pemprov Maluku Utara Sepakat Bangun Layanan Terpadu untuk Kelompok Rentan, Sekolah Rakyat, dan Gudang Logistik Bencana
Prabowo Klaim Program Makan Bergizi Gratis Jangkau 60 Juta Orang, Mulai Dilirik Negara Lain
Mantan Kapolres Bima Kota Didik Putra Kuncoro Resmi Jadi Tersangka Pencucian Uang Kasus Narkoba
KSPSI Pilih Dialog dan Solusi Konkret, Bukan Demo, dalam Peringatan May Day 2026