Bima Arya Ingatkan Inovasi Daerah Jangan Cuma Jadi Gimmick Pencitraan

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 13:10 WIB
Bima Arya Ingatkan Inovasi Daerah Jangan Cuma Jadi Gimmick Pencitraan

Di tengah gemerlap acara penghargaan, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto justru menyelipkan peringatan yang cukup tajam. Inovasi di daerah, menurutnya, jangan sampai cuma jadi gimmick atau sekadar cara untuk mengoleksi piala. Intinya sederhana: sebuah terobosan harus benar-benar menjawab persoalan yang dirasakan warga, bukan hanya memuaskan ego pejabat.

Pernyataan itu disampaikannya dalam Lamongan Award 2025, yang digelar di Pendopo Lokatantra Lamongan awal Desember lalu. Bima menekankan, nilai sebuah inovasi terletak pada solusi konkrit yang diberikannya. Tanpa itu, semua usaha hanya akan jadi kegiatan yang hambar dan tak bermakna.

"Jadi semuanya itu risetnya serius," tegas Bima dalam keterangan tertulisnya.

"Kalau risetnya hanya copy paste saja dari internet, ya buat apa? Harus ada hitung-hitungan angkanya. Kemudian inovasi ini juga harus ada dukungan pendanaan. Inovasi ini juga harus membangun kolaborasi dengan semua stakeholders," lanjutnya.

Menurut Bima, inovasi yang efektif tak cuma menyelesaikan masalah. Lebih dari itu, ia harus memberi nilai tambah yang nyata dan terintegrasi dalam sistem pemerintahan. Di sini, basis riset yang kuat menjadi kunci utama agar dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat.

Di sisi lain, Bima juga menyoroti soal keberlanjutan. Ia mencontohkan tradisi di negara maju, seperti yang ia pelajari di Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura. Di sana, setiap menteri baru yang dilantik langsung mengadakan pertemuan khusus dengan staf dan pendahulunya.

"Saya tanya, untuk apa?" ujar Bima.

"Untuk memastikan semua program-program berlanjut. Untuk memastikan semua inovasi berlanjut," paparnya.

Hal ini, menurutnya, menjadikan inovasi sebagai tradisi yang tak terputus oleh pergantian kepemimpinan.

Berdasarkan pengamatannya, Bima memaparkan sebuah matriks inovasi yang menggambarkan beragam karakter individu. Ternyata, pola pikir ASN dan kepala daerah pun beragam. Ada yang kreatif dan konsisten mendorong perubahan, tapi tak sedikit pula yang cenderung pasif atau kurang menonjol.

Dari situ, ia menarik kesimpulan. Para inovator sejati umumnya punya mindset yang berbeda; jiwa petarung dan dorongan kuat untuk memberi manfaat bagi orang lain.

"Sudah punya niat untuk berbuat bagi rakyat dan memiliki keberanian untuk berubah. Di sinilah kandang para inovator, Bapak-Ibu sekalian," ungkapnya.

Di akhir sambutannya, Bima mengucapkan selamat kepada para penerima Lamongan Award 2025. Namun begitu, ia berharap penghargaan ini bukan akhir perjalanan. Ia mengajak semua pihak untuk merenung sejenak.

"Pertanyaannya adalah, apakah warga juga bangga? Apakah rakyat juga merasakan? Apakah ada dampak yang terstruktur, sistematis, dan masif? Itu pertanyaannya," kata Bima.

"Nah, karena itu izinkan saya mengajak Bapak-Ibu kita semua sedikit merenung di balik kebanggaan penghargaan yang didapat."

Harapannya jelas: agar mereka menjadi inovator sejati yang berkontribusi nyata, bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk mendorong perubahan yang berarti di Kabupaten Lamongan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler