Jakarta Siaga: Gubernur Pramono Anung Pimpin Persiapan Hadapi Hujan Ekstrem dan Rob Jelang Nataru

- Rabu, 03 Desember 2025 | 12:05 WIB
Jakarta Siaga: Gubernur Pramono Anung Pimpin Persiapan Hadapi Hujan Ekstrem dan Rob Jelang Nataru

Di Balai Kota Jakarta, suasana pagi itu cukup padat. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengumpulkan seluruh kepala dinas, camat, dan lurah dalam sebuah pertemuan terbuka. Agenda utamanya jelas: bersiap menghadapi cuaca ekstrem yang diprediksi mengancam ibukota tepat di momen Natal dan tahun baru.

Pramono tak main-main dengan peringatannya. Menurut data yang dia sampaikan, puncak ancaman diperkirakan terjadi mulai minggu kedua Desember hingga awal Januari nanti.

"Bahkan ada hari yang curah hujannya hampir mendekati 300 milimeter," ujarnya, Rabu (3/12/2025).

"Padahal curah hujan 200 saja, Jakarta itu pasti sudah banjir," tambahnya, menekankan betapa gentingnya situasi yang akan dihadapi.

Menyikapi hal itu, dia langsung memberi instruksi spesifik. Kepala Dinas Sumber Daya Air, Ika, diminta memastikan semua pompa air siap beroperasi. Koordinasi dengan BPBD dan wali kota juga harus diperketat. Soalnya, ancamannya bukan cuma hujan deras.

"Karena juga diperkirakan pada bulan Desember ini kemungkinan air robnya naik," lanjut Pramono, mengingatkan soal potensi banjir rob di kawasan pesisir.

Namun begitu, persiapan tak cuma soal menangkal bencana. Menjelang hari raya, Pramono juga mengarahkan jajarannya untuk memastikan perayaan berjalan semarak dan, yang paling penting, aman. Dia bahkan memberi lampu hijau untuk penggunaan sejumlah jalan protokol seperti Sudirman-Thamrin dan Gatot Subroto sejak dini.

"Saya minta Natal Jakarta bisa berlangsung dengan semarak," ungkapnya.

Di tengah serangkaian arahan teknis itu, ada satu pesan yang terdengar personal dan cukup menohok. Pramono mengingatkan seluruh pejabat Pemprov DKI untuk lebih cermat dalam bermedia sosial. Baginya, informasi yang dibagikan haruslah apa adanya.

"Nggak boleh terlalu berlebihan, apalagi kemudian, mohon maaf, dibuat seakan-akan menjadi konten tertentu," imbuhnya.

Pesan terakhir itu seperti pengingat halus di tengah maraknya budaya "content creation". Intinya sederhana: jangan sampai keinginan untuk viral justru mengorbankan kejelasan dan kejujuran informasi yang disampaikan kepada publik.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar