Setelah banjir besar melanda, gelondongan kayu berserakan di aliran sungai. Itulah pemandangan yang memicu aksi tegas Kementerian Lingkungan Hidup. Menteri Hanif Faisol Nurofiq mengumumkan rencana memanggil delapan perusahaan yang beroperasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru, Sumatera Utara. Tujuannya jelas: melacak asal-usul kayu-kayu itu.
Pengumuman ini disampaikan Hanif di Jakarta, usai menghadiri acara Anugerah Proklim. Menurutnya, timnya telah mengidentifikasi kedelapan perusahaan itu. Mereka bergerak di berbagai sektor, mulai dari perkebunan kelapa sawit hingga tambang emas, dan berlokasi di wilayah yang terdampak banjir.
"Ada delapan yang berdasarkan analisis citra satelit kami berkontribusi memperparah hujan ini," ujar Hanif.
Ia melanjutkan, "Jadi, kami sedang mendalami dan saya sudah minta di Deputi Gakkum untuk melakukan langkah-langkah cepat dan terukur."
Teknologi memegang peran kunci dalam penyelidikan ini. Dengan citra satelit, kata Hanif, pihaknya bisa merekonstruksi kejadian di lokasi bencana saat hujan deras mengguyur. Analisis itu yang mendasari panggilan terhadap para perusahaan.
"Hari Senin akan segera dipanggil semua unit-unit itu," tegasnya. "Dari citra satelit, kita secara logis bisa memproyeksikan apa yang terjadi."
Tak cuma itu, setiap perusahaan akan dimintai penjelasan. Pemerintah akan membandingkan citra resolusi tinggi sebelum dan sesudah banjir. Langkah ini diambil untuk memastikan kondisi lahan di sekitar lokasi operasi mereka.
"Supaya bisa membuktikan ini, kayu itu dari mana asalnya," jelas Hanif.
Bencana ini memang parah. Banjir dan longsor telah menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir. Data terbaru dari BNPB hingga Senin pagi mencatat korban jiwa mencapai 442 orang di tiga provinsi tersebut. Situasi yang sungguh memilukan.
Di sisi lain, respons pemerintah terus bergulir. Presiden Prabowo Subianto telah turun langsung meninjau lokasi terdampak. Upaya lain yang dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca di wilayah Sumatra, sebuah langkah darurat untuk meredam curah hujan yang masih mengancam.
Artikel Terkait
KPK Periksa Bupati Muara Enim Nonaktif Edison sebagai Tersangka Suap Pengaturan Temuan BPK
AS Serang Target Militer Iran, CENTCOM Sebut sebagai Bentuk Bela Diri
Harga Emas di Pegadaian Turun Serentak, UBS Paling Dalam Rp54.000 per Gram
Dari Desa ke Kampus: Perjalanan Anak Pedesaan Menembus Batas Akses dan Budaya demi Pendidikan Tinggi