Di sisi lain, kondisi logistik di desa-desa terpencil itu semakin kritis. Bayangkan saja, untuk menjangkau warga yang terdampak, diperlukan perjalanan kaki selama delapan jam. Bantuan darat jelas mustahil untuk masuk dalam kondisi seperti ini.
"Harapan kami, untuk desa-desa terisolir mohon diberikan bantuan lewat udara," pinta Jonius. Ia merincikan ada empat titik pendaratan yang dibutuhkan dua di Parmonangan dan dua lagi di Adiankoting yang dapat mencakup kebutuhan bagi sekitar 12 desa tersebut.
Kerusakan yang ditinggalkan banjir juga sangat masif. Sekitar 175 rumah dilaporkan hilang atau rusak parah, sementara 200 rumah lainnya mengalami kerusakan dalam berbagai tingkat. Melihat kerusakan yang begitu parah, pemerintah daerah mulai memikirkan langkah jangka panjang.
Rencananya, permukiman warga akan direlokasi ke wilayah perbukitan yang lebih aman.
"Lokasi permukiman saat ini tidak memungkinkan lagi," tegas Jonius. Namun begitu, ia mengakui bahwa rencana relokasi ini tidak mudah. "Tapi untuk relokasi kami membutuhkan regulasi karena harus menggunakan hutan negara," imbuhnya, menyiratkan kompleksitas yang harus dihadapi di depan.
Artikel Terkait
Jepang Pertimbangkan Izin Kapal Asing untuk Angkut Cadangan Minyak
Skema One Way Trans Jawa Efektif Lancarkan Arus Mudik Lebaran 2026
Dermaga Pelabuhan Merak Padat Pemudik, Petugas Siaga Antisipasi Macet Total
Dua Pasangan Ganda Putra Indonesia Lolos ke 16 Besar Orleans Masters