Suasana di tubuh PBNU sedang tidak tenang. Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, mendapat desakan untuk mundur dari posisinya sebagai Ketua Umum. Permintaan itu bukan datang dari sembarang orang, melainkan dari Rais Aam dan Wakil Rais Aam PBNU sendiri, seperti tertuang dalam Risalah Rapat Harian Syuriah yang beredar luas.
Dokumen yang ditandatangani langsung oleh KH Miftachul Akhyar itu berisi keputusan tegas. Rapat yang digelar Kamis lalu itu memberi waktu tiga hari bagi Gus Yahya untuk mengundurkan diri secara sukarela.
"Musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam memutuskan: KH Yahya Cholil Staquf harus mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam waktu 3 (tiga) hari terhitung sejak diterimanya keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU," bunyi poin pertama keputusannya.
"Jika dalam waktu 3 (tiga) hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama," lanjutnya, tanpa basa-basi.
Namun begitu, Gus Yahya sama sekali tidak gentar. Ia menampik tuntutan tersebut dengan argumen yang jelas. Menurutnya, rapat harian syuriah tidak punya kewenangan untuk memecat seorang ketum. Semua harus merujuk pada aturan main organisasi yang berlaku.
"Nah karena memang apabila dikaitkan dengan pemberhentian mandataris maka rapat harian syuriah tidak memiliki legal standing karena rapat harian syuriah tidak berhak, tidak berhak memberhentikan mandataris itu masalahnya," tegasnya dalam jumpa pers di Jakarta Pusat, Minggu kemarin.
Di tengah situasi yang memanas, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mencoba menenangkan suasana. Ia mengimbau seluruh kader dan warga NU untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi. Baginya, ini hanyalah dinamika internal organisasi yang wajar terjadi.
"Ini dinamika organisasi yang sedang berjalan. Saya minta semua pengurus dan warga NU tetap tenang, tidak terbawa arus berita yang menyesatkan, dan tidak memperbesar kesalahpahaman," ujar Gus Ipul.
Yang terbaru, Gus Yahya justru semakin bersikukuh. Ia bersumpah akan menyelesaikan masa jabatannya hingga tuntas, sesuai mandat yang ia terima dari muktamar. Niatnya untuk mundur? Nol besar.
"Saya mendapatkan mandat lima tahun dan akan saya jalani lima tahun. Insyaallah saya sanggup. Maka saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur," tegasnya lagi.
Sementara itu, di Jawa Tengah, sebuah wacana lama kembali mencuat: sistem enam hari sekolah. Pemprov Jateng lagi-lagi menggodok ide ini, meski belum final dan masih dalam tahap pengkajian. Reaksinya? Seperti diduga, pro dan kontra langsung bermunculan.
Beberapa siswa yang ditanya justru bersikap cukup santai. Bagi mereka, lima atau enam hari sekolah sepertinya tak beda jauh. Masing-masing punya plus minusnya sendiri. Yang jelas, perdebatan ini masih akan panjang.
Dan untuk Anda yang khawatir dengan kesehatan, ada kabar mengejutkan soal stroke. Kasusnya kini banyak menimpa kalangan muda, seperti yang dialami Delia, seorang perempuan berusia 20 tahun. Gejalanya datang tiba-tiba: pusing hebat dan sulit bicara. Meski tubuhnya masih bisa digerakkan, semuanya terasa lemas tak karuan.
Setelah serangkaian pemeriksaan mendalam, termasuk Transcranial Doppler (TCD), terungkap bahwa pembuluh darah di otaknya mengalami penyumbatan dan kekakuan. Yang menarik, Delia diduga kuat mengalami stres berat. Lantas, benarkah stres saja, tanpa ada riwayat keluarga untuk hipertensi, kolesterol, atau diabetes, bisa memicu stroke? Ini yang sedang jadi perhatian para ahli.
Ikuti terus analisa mendalam dan diskusi hangat seputar berita-berita ini. Siaran langsungnya bisa Anda saksikan setiap Senin hingga Jumat, mulai pukul 15.30 sampai 18.00 WIB. Jangan lupa, di awal acara akan ada laporan pergerakan saham terkini. Sampaikan juga pendapat Anda lewat kolom chat yang tersedia.
Detik Sore, Nggak Cuma Hore-hore!
Artikel Terkait
Program Makan Bergizi Tetap Berjalan di Libur Lebaran dan Imlek dengan Skema Khusus
Jadwal Imsak dan Salat Ramadan 2026 untuk Jakarta dan Kepulauan Seribu
Pemerintah Targetkan Selesai Tumpukan Sampah Bantar Gebang dan Bali pada 2027
SIG Salurkan 36.000 Bata Interlock untuk Huntap Pascabencana di Padang