Semeru Muntahkan Amarah, 3 Desa Luluh Lantak dan Ratusan Jiwa Mengungsi

- Senin, 24 November 2025 | 09:45 WIB
Semeru Muntahkan Amarah, 3 Desa Luluh Lantak dan Ratusan Jiwa Mengungsi

Gunung Semeru kembali menunjukkan amarahnya. Beberapa hari lalu, erupsi dahsyat mengguncang kawasan Lumajang, Jawa Timur, meninggalkan jejak kerusakan yang memilukan. Menurut laporan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana, tiga orang harus dilarikan dengan luka berat. Mereka kini berjuang menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Haryoto Lumajang.

Kerugian material pun tak kalah parah. Abdul Muhari, sang Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, membeberkan datanya. "Selain lahan pertanian seluas 204,63 hektare rusak, ada rumah rusak berat 21 unit," ujarnya, Senin (24/11/2025).

Tak cuma itu, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan bahkan gardu PLN juga ikut menjadi korban. Masing-masing satu unit rusak berat diterjang muntahan material vulkanik.

Dampak terparah dirasakan oleh tiga desa. Material panas dan abu vulkanik menyapu Desa Supiturang, Oro-Oro Ombo di Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro. Pemandangannya mirip seperti di film-film bencana, tapi ini nyata.

Hingga hari Minggu (23/11), tercatat 528 warga dari ketiga desa itu terpaksa mengungsi. Mereka tersebar di dua lokasi: SMP Negeri 02 Pronojiwo menampung 307 jiwa, sementara SDN 04 Supiturang menjadi tempat berlindung bagi 221 jiwa lainnya.

Meski tinggal di pengungsian, semangat hidup mereka tak padam. "Mereka tetap beraktivitas, seperti membersihkan rumah mereka yang terdampak abu vulkanik maupun tetap bekerja," tutur Abdul. Sebuah potret ketangguhan di tengah musibah.

Di sisi lain, bantuan logistik pun mulai mengalir. BNPB bersama perwakilan Komisi VIII DPR RI menyalurkan ratusan matras, terpal, selimut, masker medis, hingga paket alat kebersihan. Untuk memenuhi kebutuhan perut, tersedia 1.000 makanan siap saji dan 200 paket sembako.

"Bantuan dimanfaatkan oleh mereka yang tempat tinggalnya terdampak maupun masyarakat sekitar yang turut terpapar abu vulkanik," jelas Abdul.

Bicara soal kronologi, erupsi ini bermula pada Rabu (19/11) sore tepat pukul 16.00 WIB. Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat kolom letusan menjulang setinggi 2.000 meter di atas puncak. Yang lebih mengerikan, awan panasnya meluncur sejauh tujuh kilometer dari puncak, membawa abu kelabu pekat ke arah utara dan barat laut.

Getarannya terekam jelas di seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm, berlangsung selama 16 menit 40 detik yang mencekam. Aktivitas erupsi baru benar-benar mereda pukul 18.11 WIB.

Namun begitu, kewaspadaan tetap harus dijaga. Status Level IV atau Awas masih berlaku. Pemerintah Kabupaten Lumajang pun telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Alam yang akan aktif hingga 26 November mendatang. Semua ini untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, karena Semeru memang tak pernah bisa ditebak.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar