Peretasan CCTV India: Video Privasi Ruang Bersalin Diperjualbelikan di Telegram

- Senin, 17 November 2025 | 08:50 WIB
Peretasan CCTV India: Video Privasi Ruang Bersalin Diperjualbelikan di Telegram
Kasus Peretasan CCTV Rumah Sakit India: Video Ruang Bersalin Diperjualbelikan di Telegram

Kasus Peretasan CCTV Rumah Sakit India: Video Ruang Bersalin Diperjualbelikan di Telegram

Sebuah insiden keamanan siber yang serius terjadi di sebuah rumah sakit bersalin di India. Rekaman CCTV dari dalam rumah sakit, khususnya yang merekam aktivitas di ruang bersalin, dilaporkan berhasil diretas oleh pihak tidak bertanggung jawab. Video yang berisi privasi para perempuan hamil ini kemudian diperjualbelikan secara ilegal melalui platform pesan instan, Telegram.

Kronologi Peretasan dan Peredaran Video

Menurut laporan, pihak kepolisian di negara bagian Gujarat mulai menyelidiki kasus ini setelah menemukan video-video dari ruang bersalin yang beredar di platform YouTube. Video-video tersebut menunjukkan momen-momen privat seperti wanita hamil yang sedang menjalani pemeriksaan medis hingga proses penyuntikan. Dalam video yang beredar, terdapat tautan yang mengarahkan penonton untuk bergabung dengan sebuah saluran Telegram guna membeli rekaman yang lebih panjang dan lengkap.

Respons Pihak Rumah Sakit dan Perlindungan Korban

Direktur rumah sakit yang menjadi korban peretasan menjelaskan bahwa pemasangan kamera CCTV awalnya dimaksudkan untuk meningkatkan keselamatan para dokter dan tenaga medis. Untuk melindungi identitas dan privasi para perempuan yang menjadi korban, nama kota dan rumah sakit sengaja tidak disebutkan. Menariknya, tidak satu pun dari para pasien yang tampil dalam video tersebut yang secara resmi melaporkan kejadian ini kepada polisi.

Skala Besar Ancaman Keamanan Siber pada CCTV

Polisi mengungkapkan bahwa kasus ini hanyalah bagian kecil dari jaringan kejahatan siber yang masif. Diperkirakan, sekitar 50.000 CCTV di seluruh India telah berhasil dicuri datanya oleh para peretas dan kemudian dijual secara online. CCTV telah menjadi perangkat yang sangat umum digunakan di India, mulai dari mal, kantor, rumah sakit, sekolah, hingga kompleks apartemen dan rumah pribadi.

Kerentanan Sistem CCTV dan Peringatan Ahli

Para ahli keamanan siber telah lama memperingatkan bahwa meskipun CCTV bermanfaat untuk keamanan, sistem yang dipasang atau dikelola dengan buruk justru dapat menjadi ancaman serius bagi privasi. Di India, banyak kamera pengawas ditangani oleh staf tanpa pelatihan keamanan siber yang memadai. Selain itu, beberapa model kamera buatan dalam negeri dilaporkan memiliki celah keamanan yang mudah dieksploitasi oleh peretas.

Modus Operandi dan Penjualan Video

Jaringan pelaku yang tersebar di berbagai negara bagian ini diduga kuat tidak hanya meretas CCTV rumah sakit, tetapi juga sistem pengawasan di sekolah, perguruan tinggi, kantor perusahaan, dan bahkan kamar tidur pribadi. Video-video hasil retasan ini dijual dengan harga yang bervariasi, mulai dari 800 hingga 2.000 Rupee. Saluran Telegram yang mereka kelola bahkan menawarkan layanan langganan untuk mengakses umpan CCTV secara langsung.

Proses Hukum dan Penangkapan Pelaku

Kepolisian telah mendaftarkan kasus ini dengan berbagai pasal, termasuk pelanggaran privasi, penerbitan materi cabul, voyeurisme, dan terorisme siber. Sejak bulan Februari, delapan orang tersangka telah berhasil ditangkap dari berbagai wilayah seperti Maharashtra, Uttar Pradesh, Gujarat, Delhi, dan Uttarakhand. Para tersangka saat ini masih ditahan sementara proses hukum berlanjut di pengadilan. Pengacara dari tiga terdakwa membantah kliennya terlibat dan menyatakan bahwa pelaku sebenarnya adalah orang lain.

Upaya Pencegahan dan Peningkatan Keamanan

Penyelidik kejahatan siber menekankan bahwa CCTV dan perangkat jaringan rumah yang tidak diamankan dengan baik adalah target empuk bagi peretas. Salah satu langkah pencegahan paling dasar yang dapat dilakukan adalah segera mengubah alamat IP dan kata sandi default yang disediakan oleh pabrikan perangkat. Pemerintah federal India juga telah meminta negara bagian untuk tidak membeli CCTV dari pemasok yang memiliki riwayat pelanggaran keamanan data, serta memperkenalkan aturan baru untuk meningkatkan standar keamanan siber kamera pengawas.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar