11 Tanda Kemunduran Israel 2024: Krisis Militer, Ekonomi, dan Isolasi Global

- Rabu, 12 November 2025 | 05:40 WIB
11 Tanda Kemunduran Israel 2024: Krisis Militer, Ekonomi, dan Isolasi Global

11 Tanda Utama Kemunduran Israel: Analisis Kondisi Terkini

1. Penolakan Bertugas di Kalangan Tentara IDF

Lebih dari 100.000 warga Israel dilaporkan mengundurkan diri dari tugas sebagai tentara cadangan. Data resmi menunjukkan tingkat kehadiran tentara cadangan mencapai 80%, namun sumber internal memperkirakan angka sebenarnya mencapai 40% ketidakhadiran. Fenomena ini mencerminkan menurunnya moral pasukan dan penolakan terhadap kebijakan militer saat ini.

2. Krisis Ekonomi yang Semakin Memburuk

Kondisi fiskal Israel mengalami penurunan signifikan yang ditandai dengan penurunan peringkat kredit oleh lembaga pemeringkat internasional. Defisit fiskal melonjak menjadi 7,8% dari PDB pada tahun 2024, meningkat hampir dua kali lipat dari angka 4,1% pada tahun sebelumnya. Kondisi ini memperlihatkan dampak ekonomi dari konflik berkepanjangan.

3. Gelombang Penutupan Bisnis dan Kelangkaan Tenaga Kerja

Sebanyak 46.000 bisnis Israel terpaksa tutup pada tahun 2024, dengan perkiraan tambahan 60.000 bisnis akan menghentikan operasi pada akhir tahun. Faktor penyebab meliputi hilangnya sektor pariwisata, pengungsian warga negara ganda, dan kekurangan tenaga kerja yang semakin kritis.

4. Ketegangan dalam Kemitraan dengan Amerika Serikat

Hubungan strategis AS-Israel menunjukkan tanda-tanda perubahan dengan pergeseran prioritas kebijakan luar negeri Amerika. Pernyataan resmi pemerintah AS mulai menempatkan Arab Saudi sebagai mitra utama, menggeser posisi Israel yang sebelumnya diutamakan. Perubahan ini terlihat dari berbagai kesepakatan regional terbaru yang tidak melibatkan Israel.

5. Perubahan Hubungan dengan Uni Eropa

Uni Eropa secara resmi mulai mengkritik kebijakan Israel, dengan Belanda secara khusus menyerukan peninjauan ulang perjanjian kemitraan UE-Israel. Instrumen kerjasama ini selama ini menjamin aliran dana miliaran dolar untuk kolaborasi perdagangan dan penelitian.

6. Gugatan Genosida di Perserikatan Bangsa-Bangsa

Afrika Selatan mengajukan gugatan hukum ke Mahkamah Internasional PBB yang menuduh Israel melakukan genosida. Dokumen setebal 5.000 halaman diajukan sebagai bukti pendukung gugatan tersebut, menandai eskalasi dalam tekanan hukum internasional terhadap Israel.

7. Surat Perintah Penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional

ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk pemimpin Israel terkait dugaan kejahatan perang. Ditambah dengan resolusi Majelis Umum PBB yang menuntut penghentian "kehadiran ilegal" di wilayah Palestina, tekanan hukum internasional semakin intensif.

8. Gelombang Emigrasi Warga Israel

Data menunjukkan lebih dari 550.000 warga Israel meninggalkan negara tersebut selama periode perang Gaza. Yang mengkhawatirkan, sekitar 8.300 profesional teknologi tinggi termasuk dalam angka ini, padahal kelompok ini menyumbang 35% dari pendapatan pajak penghasilan meski hanya mewakili 8% angkatan kerja.

9. Memburuknya Pandangan Global

Survei global menunjukkan penurunan dukungan terhadap Israel rata-rata 18,5 poin persentase di 42 dari 43 negara yang disurvei. Di Amerika Serikat, opini negatif terhadap Israel meningkat dari 42% menjadi 53% dalam dua tahun terakhir. Dampak ini juga mempengaruhi citra negara-negara pendukung Israel.

10. Dampak Gerakan Boikot Global

Gerakan BDS (Boycott, Divestment, and Sanctions) menunjukkan hasil signifikan dengan satu dari tiga konsumen global melaporkan partisipasi dalam boikot terkait perang Gaza. Perusahaan multinasional seperti McDonald's dan Starbucks mengalami penurunan penjualan akibat hubungan mereka dengan Israel.

11. Krisis Psikologis dan Sosial

Para analis mencatat terjadinya keruntuhan sosial dan psikologis dalam masyarakat Israel. Menurut pengamatan ekonom politik Shir Hever, masyarakat Israel mengalami disorientasi realitas dan kehilangan koneksi dengan fakta objektif, menandai krisis multidimensi yang melampaui aspek politik dan ekonomi.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar