Perguruan tinggi, yang diisi oleh sumber daya intelektual unggul, memiliki kapasitas untuk mengubah budaya masyarakat. Oleh karena itu, universitas harus proaktif dalam menyampaikan masukan yang berdasar pada referensi ilmiah dan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menjadi Mitra Strategis, Bukan Oposisi
Tito lebih lanjut menjelaskan bahwa peran perguruan tinggi adalah sebagai penyeimbang dalam proses kebijakan publik. Posisi ini bukan sebagai oposisi, melainkan sebagai mitra strategis yang memberikan pandangan objektif dan berbasis riset untuk melahirkan kebijakan yang tepat sasaran.
Agar peran strategis ini dapat berjalan optimal, soliditas internal di lingkungan kampus mutlak diperlukan. Kekompakan antara rektor, jajaran pimpinan universitas, senat akademik, dan seluruh civitas akademika menjadi kunci utama untuk mendukung pembangunan nasional secara efektif.
Di akhir pernyataannya, Tito juga menyoroti pentingnya peran aparatur pemerintahan yang profesional dan efisien. Kebijakan yang berbasis data dan teori yang kuat pun tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan tata kelola administrasi pemerintahan yang efektif dan didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni.
Artikel Terkait
Anak Sulung: Dewasa Sebelum Waktunya, Lelah yang Tak Terucapkan
Iran Berduka: Enam Tewas dalam Kerusuhan Akibat Protes Ekonomi
Prabowo dan BRICS: Bebas Aktif atau Pergeseran Haluan?
Tragedi Api di Crans-Montana: Pesta Tahun Baru Berubah Jadi Malapetaka