7 Pesan Abadi Jenderal Sudirman di Hari Pahlawan 10 November

- Senin, 10 November 2025 | 10:50 WIB
7 Pesan Abadi Jenderal Sudirman di Hari Pahlawan 10 November

Makna dan Pesan Abadi Hari Pahlawan 10 November dari Jenderal Sudirman

Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan kusuma bangsa. Mereka telah mengorbankan harta, jiwa, raga, dan nyawa demi kemerdekaan yang kita nikmati saat ini. Semangat perjuangan ini terus hidup dari generasi ke generasi, dari pahlawan satu ke pahlawan lainnya.

Kita mengenal heroisme Bung Tomo dengan pekik "Allahu Akbar"-nya yang membakar semangat rakyat untuk bertempur habis-habisan di medan laga. Semangat "Hidup atau Mati" inilah yang menjadi ciri khas perjuangan melawan penjajah, menunjukkan tekad bulat bangsa Indonesia untuk tidak sudi dijajah oleh bangsa lain.

Kisah Kepahlawanan Jenderal Sudirman

Dalam sejarah perjuangan Indonesia, nama Jenderal Sudirman tercatat sebagai salah satu pahlawan terbesar. Meski dalam kondisi sakit yang parah, bahkan sampai muntah darah, beliau memilih memimpin perang gerilya melawan Belanda. Keyakinannya yang teguh pada dukungan rakyat menjadi fondasi lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang kita kenal sekarang, yang lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Di Monumen Jenderal Sudirman, terdapat Candrasangkala "KARYANING DWIJA TRUSING ARMATA" yang mengandung makna mendalam. Karyaning berarti karya atau hasil pekerjaan, Dwijatru merujuk pada kaum terpelajar, Trusing berarti tulus atau murni, dan Armata berarti tentara atau prajurit. Prasasti ini diresmikan pada 5 Oktober 1974 oleh Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Makmun Murod.

Pesan Moral Panglima Besar Jenderal Sudirman

Berikut adalah pesan-pesan moral abadi dari Panglima Besar Jenderal Sudirman yang relevan hingga kini:

  1. "...satu satunya hak milik Nasional Republik yang masih tetap utuh tidak berobah-robah meskipun harus menghadapi segala macam soal dan perobahan, adalah hanya Angkatan Perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia)"
  2. "Anak-anakku Tentara Indonesia, kamu bukanlah serdadu sewaan tetapi prajurit yang berideologi yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran Tanah Airmu."
  3. "Janganlah kamu berbuat seperti sapu yang meninggalkan ikatannya. Sebatang lidi tidak akan berarti apa-apa, tetapi dalam ikatan sapu akan dapat menyapu segala-galanya."
  4. "Hendaknya perjuangan kita harus di dasarkan atas kesucian, dengan demikian perjuangan kita selalu merupakan perjuangan antara jahat melawan suci."
  5. "Tentara akan hidup sampai akhir zaman, jangan menjadi alat oleh suatu badan atau orang. Tentara akan timbul dan tenggelam bersama sama negara."
  6. "Janji sudah kita dengungkan, tekad sudah kita tanamkan semua ini tidak akan bermanfaat bagi tanah air kita apabila janji dan tekad ini tidak kita amalkan dengan amalan yang nyata."
  7. "ROBEK-ROBEKLAH BADANKU POTONG-POTONGLAH JASADKU INI, TETAPI JIWAKU DILINDUNGI BENTENG MERAH PUTIH AKAN TETAP HIDUP, TETAP MENUNTUT BELA SIAPAPUN LAWAN YANG AKU HADAPI."
  8. "Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya."
  9. "Tunduk kepada pimpinan atasannya dengan ikhlas mengerjakan kewajibannya, tunduk kepada perintah pimpinan itulah yang merupakan kekuatan dari suatu tentara."
  10. "Bahwa negara Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh tentara saja, maka perlu sekali mengadakan kerjasama yang seerat-eratnya dengan golongan serta badan-badan di luar tentara."
  11. "Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang dan siapapun juga."
  12. "Tentara bukan merupakan suatu golongan di luar masyarakat, bukan suatu 'Kasta' yang berdiri di atas masyarakat, tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu."

Relevansi Pesan Jenderal Sudirman di Masa Kini

Pesan-pesan Jenderal Sudirman tersebut bukan hanya relevan untuk internal TNI, tetapi juga untuk seluruh rakyat Indonesia. Beliau menegaskan bahwa TNI dan rakyat adalah benteng terakhir kekuatan negara. Semangat ini mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa, serta kewaspadaan terhadap segala bentuk pengkhianatan terhadap negara.

Peringatan Hari Pahlawan seharusnya menjadi momen refleksi bagi seluruh bangsa Indonesia untuk meneladani nilai-nilai kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata, bukan sekadar seremoni belaka. Mari kita jadikan semangat kepahlawanan sebagai inspirasi dalam membangun Indonesia yang lebih baik.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar