Remaja 14 Tahun Dianiaya Teman Sekamar di Pesantren Lamongan, Kronologi & Proses Hukum

- Rabu, 05 November 2025 | 18:42 WIB
Remaja 14 Tahun Dianiaya Teman Sekamar di Pesantren Lamongan, Kronologi & Proses Hukum

Kasus Perundungan di Pesantren Lamongan: Remaja 14 Tahun Dianiaya Teman Sekamar

Seorang remaja berinisial FAR (14 tahun) asal Wonorejo, Surabaya, menjadi korban perundungan fisik dan psikis di sebuah pondok pesantren di Kabupaten Lamongan. Kejadian ini diduga dilakukan oleh dua teman sekamarnya, RR (14) dan AAN (14), yang memukul dan menendang korban.

Kronologi Perundungan Berbulan-bulan

Menurut pengakuan orang tua korban, Winda Nurjannah (32), perundungan telah berlangsung sejak FAR duduk di kelas 7, sekitar dua bulan setelah masuk pesantren pada September 2024. Selama ini, FAR tidak menceritakan pengalamannya kepada orang tua.

Jenis-jenis Perundungan yang Dialami

Korban mengalami berbagai bentuk perundungan, termasuk olok-olok dengan kata-kata seperti "cemen" dan "banci". Barang-barang pribadi FAR seperti baju, tas, dan sepatu juga sering hilang diambil pelaku. Kondisi ini menyebabkan FAR kerap sakit, bahkan hingga menderita masalah paru-paru.

Puncak Pengeroyokan Terekam CCTV

Insiden puncak terjadi pada 7 Oktober 2025 ketika FAR menemukan bajunya yang hilang di jemuran RR. Saat ditegur, RR malah mengolok-olok dan menganiaya FAR hingga harus dibawa ke klinik pondok. Orang tua korban kemudian meminta rekaman CCTV yang menunjukkan FAR dianiaya oleh dua temannya.

Laporan ke Polres Lamongan

Winda telah melaporkan kedua pelaku ke Polres Lamongan dengan nomor STTLP/B/313/VIII/2025/SPKT/Polres Lamongan/Polda Jawa Timur tertanggal 9 Oktober 2025. Sementara pihak pesantren menganggap ini sebagai pelanggaran ringan, korban telah memutuskan keluar dari pondok tersebut.

Proses Hukum Berjalan

Kasi Humas Polres Lamongan, Ipda M. Hamzaid, menyatakan bahwa kasus ini sedang dalam proses penyelidikan oleh Unit PPA Satreskrim Polres Lamongan. Perkembangan lebih lanjut akan diumumkan kepada publik.

Kasus perundungan di pesantren Lamongan ini menyoroti pentingnya pengawasan terhadap kekerasan di lingkungan pendidikan, khususnya di asrama dan pondok pesantren. Masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap tanda-tanda perundungan pada anak.

Komentar