Kisah Haru Seorang Ibu: Di Talak Suami, Tetap Gigih Bayar SPP Pesantren Anak
Ditulis oleh: Ustadz Wahab Rajasam (Pengasuh Pesantren Al-Andalus Ulul Albaab Sukabumi)
Sebuah kisah nyata tentang keteguhan hati seorang ibu. Dengan semangat tinggi, ia mendaftarkan anaknya ke sebuah pesantren. Setelah dinyatakan lulus tes, ia segera membayar uang pangkal. Namun, keputusan ini justru menjadi awal ujian besar dalam hidupnya.
Suaminya marah besar saat mengetahui anak mereka akan mondok. Alasannya, biaya pesantren dinilai terlalu berat. Pertengkaran hebat pun terjadi, yang berujung pada talak untuk sang ibu. Ekonomi keluarga menjadi sangat sulit setelah ia ditinggalkan suami.
Dengan beban yang berat, sang ibu menghubungi pengurus pesantren. Ia memohon keringanan biaya SPP. Untuk menghidupi diri dan anaknya, ia bekerja sebagai tukang pijat (khusus wanita), tukang cuci, dan pekerjaan halal lainnya. Yang luar biasa, semangatnya untuk memondokkan anaknya tak pernah pudar.
Pengasuh pesantren pun tersentuh. Rasa malu muncul karena tidak membantu lebih awal. Sang ibu pun bersikukuh untuk tetap membayar, meski meminta keringanan. Ia tidak mau digratiskan.
Momen paling mengharukan terjadi ketika ia berkata, "Ustadz mohon maaf, bolehkan saya saat ini membayar SPP hanya separuhnya? Insya Allah jika ekonomi kami membaik, kami akan tetap bayar full."
Dengan penuh perhatian, pihak pesantren menawarkan pembebasan SPP agar ia tidak kelaparan. Namun, dengan keyakinan kuat ia menjawab, "Enggak ustadz, saya yakin Allah pasti mampukan saya untuk tetap bisa makan dan membayar SPP anak saya. Saya hanya mohon keringanan saja untuk saat ini."
Subhanallah. Beberapa bulan kemudian, Allah memudahkan usahanya. Bisnis jualannya berkembang dengan hasil yang baik. Ia pun menepati janjinya dengan membayar lunas SPP anaknya.
Kisah ini membuktikan kekuatan husnudzon (berprasangka baik) kepada Allah. Ketika seorang hamba tidak hanya mengandalkan belas kasihan manusia, tetapi juga berusaha dan bertawakal, maka Allah akan memberikan kemudahan.
Anaknya pun tumbuh menjadi santri yang rajin belajar, berakhlak mulia, dan tekun beribadah. Semoga kelak ia dapat membalas semua pengorbanan ibunya dengan menjadi manusia yang sukses di mata Allah dan masyarakat.
Artikel Terkait
Pengamat Soroti Reformasi Kultural sebagai Inti Perubahan di Tubuh Polri
KPK Dalami Aliran Dana Kasus Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid
Istri Tersangka Korupsi Bupati Bekasi Diperiksa KPK
Batalyon Arhanud 21 Pasgat Jadi Perisai Terakhir Objek Vital TNI AU