Idol Destruction Syndrome: Dari Pengidolaan ke Penjatuhan di Media Sosial
Di era media sosial, netizen mampu membangun "pahlawan" secepat mereka menghancurkannya. Fenomena ini dikenal sebagai idol destruction syndrome, pola perilaku digital yang patut dipahami.
Apa Itu Idol Destruction Syndrome?
Idol destruction syndrome adalah fenomena psikologis dimana netizen mengidolakan seorang tokoh secara berlebihan, kemudian merasa perlu untuk menjatuhkannya. Dinamika ini lahir dari kebutuhan netizen akan harapan dan representasi moral di ruang digital.
Mekanisme Psikologis di Balik Fenomena Ini
Netizen seringkali tidak mengagumi orangnya secara langsung, melainkan cerminan harapan mereka sendiri. Tokoh seperti Purbaya, Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, atau Nadiem Makarim menjadi imajinasi kolektif tentang sosok pemimpin ideal.
Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, muncul kekecewaan yang berubah menjadi kebutuhan untuk menjatuhkan. Proses ini diperparah oleh algoritma media sosial yang mengamplifikasi emosi negatif.
Siklus Pengidolaan dan Penjatuhan
Pengidolaan berlebihan menjadi awal tragedi. Netizen membangun citra ideal yang mustahil dipenuhi oleh siapapun. Ketika realita tidak sesuai ekspektasi, terjadi balikan dramatis dari pemujaan menjadi penjatuhan.
Engagement yang lahir dari pujian ternyata sama kuatnya dengan yang berasal dari kemarahan. Inilah yang membuat puncak popularitas seringkali menjadi pertanda kejatuhan sudah dekat.
Pelajaran yang Bisa Diambil
Fenomena ini mengajarkan bahwa semakin tinggi kekaguman, semakin besar potensi kekecewaan. Baik sebagai publik figur maupun netizen, memahami dinamika ini penting untuk navigasi yang sehat di ruang digital.
Kesadaran akan idol destruction syndrome membantu kita lebih bijak dalam mengonsumsi konten dan berinteraksi di media sosial.
Artikel Terkait
BI Terapkan Kuota Penukaran Uang Baru Jelang Lebaran 2026
Anggota DPR Desak Bentuk Tim Khusus Tangani Penonaktifan Massal Peserta BPJS PBI
Gibran Tegaskan Komitmen Pemerintah Perangi Korupsi dan Dorong RUU Perampasan Aset
Produksi Kakao Nasional Diproyeksi Naik Jadi 635 Ribu Ton pada 2026