Kasus Bullying di Sukabumi: Siswi MTsN 3 Tewas Bunuh Diri, DP3A Ingatkan Bahaya Ejekan Berlebihan

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 17:42 WIB
Kasus Bullying di Sukabumi: Siswi MTsN 3 Tewas Bunuh Diri, DP3A Ingatkan Bahaya Ejekan Berlebihan

Catatan Penting: Bunuh diri bukanlah solusi. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan, segera cari pertolongan dengan mengunjungi www.healing119.id.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Sukabumi menegaskan bahwa kasus bunuh diri siswi MTsN 3 yang diduga akibat bullying harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Agus Sanusi, Kepala DP3A Kabupaten Sukabumi, menekankan pentingnya memperhatikan setiap keluhan yang disampaikan anak.

"Saya berharap tidak ada lagi kejadian bullying di sekolah. Semua pihak, baik di sekolah, lingkungan, maupun keluarga, harus lebih responsif dan peka terhadap apa yang dikeluhkan anak-anak kita," ujar Agus Sanusi pada Jumat (31/10).

Agus menambahkan bahwa ejekan atau candaan yang berlebihan sering kali dinormalisasi, padahal dapat melukai perasaan dan menyebabkan tekanan psikologis.

"Jangan menormalisasikan ejekan atau candaan yang berlebihan yang sifatnya membuat orang lain merasa tertekan," tegasnya.

Sebagai langkah pencegahan, DP3A melalui Bidang Perlindungan Perempuan dan Khusus Anak (PPKA) kini gencar melakukan sosialisasi bahaya bullying ke berbagai sekolah. Upaya ini bertujuan meningkatkan pemahaman tentang pentingnya perlindungan anak.

Selain itu, Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) akan memberikan pendampingan psikologis bagi anak-anak yang diduga terlibat dalam perundungan terhadap siswi tersebut. Keluarga korban juga akan mendapat dukungan psikologis jika diperlukan.

Kronologi Kasus Bunuh Diri Siswi MTsN 3 Sukabumi Diduga Akibat Bullying

Seorang siswi MTsN 3 Kabupaten Sukabumi ditemukan tewas akibat gantung diri di rumahnya di Kecamatan Cikembar pada Selasa (28/10) malam. Kejadian ini menjadi viral di media sosial.

Wawan Setiawan, Kepala Sekolah MTsN 3 Sukabumi, mengungkapkan bahwa korban dikenal sebagai siswi berprestasi dan aktif dalam kegiatan sekolah seperti pramuka dan ekstrakurikuler. Korban terakhir terlihat beraktivitas normal dan izin pulang karena mengeluh sakit perut.

Wawan menegaskan bahwa sekolah tidak pernah menerima laporan atau tanda-tanda bahwa korban mengalami tekanan atau perundungan di sekolah. Ia menyatakan bahwa sekolah menerapkan prinsip ramah anak dan menolak segala bentuk kekerasan.

Di sisi lain, Ferry Supriyadi, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi, mengaku mendengar penuturan langsung dari ibu korban mengenai kondisi anaknya sebelum meninggal.

"Ibu korban menyampaikan bahwa ia pernah melaporkan keluhan anaknya kepada wali kelas, Ibu Dewi, mengenai masalah yang dialami almarhumah setiap pulang sekolah," kata Ferry usai melayat pada Rabu (29/10).

Menurut Ferry, wali kelas sempat menanggapi keluhan tersebut dan berjanji akan menindaklanjutinya.

Korban meninggalkan surat bunuh diri tulisan tangan yang berisi permintaan maaf kepada keluarga serta ungkapan sakit hati terhadap teman sekelasnya. Surat tersebut juga menyebutkan keinginan korban untuk pindah sekolah. Saat ini, kasus ini sedang ditangani oleh Unit PPA Polres Sukabumi.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler