Struktur kelembagaan Indonesinomics menempatkan negara sebagai fasilitator solidaritas dengan DENI, DKSN, BUMDes, dan koperasi digital sebagai pilar utama.
Sumber Pembiayaan Utama
- Pajak progresif atas rente dan kepemilikan pasif
- Dividen rakyat dari BUMN strategis
- Insentif fiskal hijau dan digital bagi koperasi
Mekanisme Pengawasan Partisipatif
Pengawasan dilakukan melalui audit sosial bersama universitas dan komunitas lokal, serta transparansi publik via Open Data Dashboard yang memungkinkan masyarakat memantau kebijakan fiskal dan proyek nasional.
Indikator Keberhasilan Indonesinomics
Keberhasilan Indonesinomics diukur melalui indikator teknis dan moral berbasis Pancasila:
Indikator Teknis
- Rasio Gini dan kepemilikan aset rakyat
- Akses pendidikan dan kesehatan
- Partisipasi publik dalam perumusan kebijakan
- Proporsi energi terbarukan
- Kontribusi koperasi terhadap PDB
Indikator Moral Berbasis Pancasila
- Keadilan sosial dari distribusi aset
- Kerakyatan dari partisipasi publik
- Kemanusiaan dari pekerjaan layak
- Kemandirian dari kedaulatan pangan dan energi
- Keseimbangan ekologis dari keberlanjutan alam
Kesimpulan: Ekonomi yang Berjiwa untuk Indonesia
Indonesinomics menawarkan sintesis baru yang menolak dikotomi pasar bebas versus etatisme. Sistem ini dibangun atas dasar partisipasi, solidaritas, dan transparansi dengan prinsip utama: "Manusia sebagai pusat nilai tambah, negara sebagai fasilitator solidaritas, dan alam sebagai mitra keberlanjutan."
Gde Siriana Yusuf adalah Direktur Eksekutif Indonesia Future Studies (iNFUS) dan kandidat doktor Ilmu Politik di Universitas Padjadjaran.
Artikel Terkait
Kepala Polresta Sleman Dicopot Usai Kasus Pembelaan Diri Berujung Maut
Cinta Tak Kenal Usia: Kisah Sopir Truk dan Majikannya yang Akhirnya Sah di KUA
Opini Tanpa Data: Ancaman Nyata bagi Demokrasi di Era Medsos
Roy Suryo dan Dokter Tifa Gugat Pasal Pencemaran Nama Baik ke MK