Permasalahan utama yang dihadapi warga Kampung Apung adalah krisis air bersih. Air tanah yang mereka andalkan sudah tidak layak konsumsi. Air sumur berwarna kekuningan, berbau karat, dan meninggalkan endapan besi. Diduga kuat, kondisi ini akibat pencemaran limbah industri di sekitar wilayah tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak, warga terpaksa membeli air bersih dari pedagang keliling dengan harga Rp 6.000 per pikul. Setiap keluarga bisa menghabiskan 4-5 pikul atau sekitar 200 liter air bersih per minggu, yang berarti beban biaya hidup mereka semakin bertambah.
Tanggapan dan Langkah Pemerintah
Menanggapi keluhan warga, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, telah memerintahkan Pemerintah Kota Jakarta Barat untuk segera menyalurkan bantuan air bersih. Wali Kota Jakarta Barat, Uus Kuswanto, menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Perusahaan Air Minum (PAM) setempat untuk memastikan pengiriman pasokan air bersih ke kawasan Cengkareng dan Kalideres, termasuk Kampung Apung.
Meskipun jaringan PAM hingga saat ini belum terpasang di wilayah tersebut, pemerintah setempat berkomitmen untuk memberikan bantuan sambil menunggu solusi permanen. Warga pun berharap agar akses terhadap air bersih, hak dasar mereka, dapat segera terpenuhi setelah bertahun-tahun menghadapi kesulitan.
Artikel Terkait
Italia Kalahkan Irlandia Utara, Lolos ke Final Playoff Piala Dunia 2026
Harga Emas Antam Anjlok Rp40.000 per Gram, Sentuh Rp2,81 Juta
Prancis Tundukkan Brasil 2-1 Meski Bertahan dengan 10 Pemain
Iran Terbitkan Daftar Putih Negara yang Dijamin Aman Lewati Selat Hormuz