Pemerintah Cile menetapkan status darurat pada Senin (20/7) malam setelah hujan deras melanda wilayah utara negara itu, menewaskan sedikitnya 10 orang dan merusak lebih dari 1.100 rumah. Hujan yang mengguyur sejak pekan lalu menghantam kawasan Coquimbo dan Atacama, dua daerah yang biasanya beriklim kering.
Badan Penanggulangan Bencana Nasional Cile (SENAPRED) melaporkan 17 orang luka-luka dan empat lainnya masih hilang. Presiden Jose Antonio Kast mengatakan kondisi yang memburuk memaksa pemerintah mengambil langkah darurat. Kebijakan itu memungkinkan militer dikerahkan, membatasi pergerakan warga, dan mempercepat distribusi bantuan.
Wakil Menteri Dalam Negeri Cile, Maximo Pavez, menyebut hujan yang terjadi sangat tidak biasa. "Curah hujan yang biasanya turun selama satu bulan, kali ini turun hanya dalam waktu satu jam," katanya.
Ahli meteorologi Arnaldo Zuniga menambahkan bahwa Cile belum pernah mengalami hujan sebesar ini dalam dua dekade terakhir. "Kami belum menghadapi situasi seperti ini selama bertahun-tahun," ungkapnya.
Banjir akibat meluapnya sungai telah memutus akses jalan, mengisolasi sejumlah permukiman, serta mengganggu pasokan listrik dan air bersih di wilayah terdampak.
Artikel Terkait
Banjir Dahsyat di Nuristan Afghanistan, Lebih dari 100 Orang Hilang
Kemensos Kirim Bantuan Logistik untuk Korban Banjir di Tapanuli Tengah
Anomali Musim Kemarau: Banjir Bandang Terjang Agam, Warga Mengungsi
Topan Maysak Terjang China Selatan, 48.000 Warga Dievakuasi