Irak dan Suriah menandatangani perjanjian di Washington pada Jumat, 17 Juli 2026, untuk membangun kembali jalur pipa minyak mentah yang telah lama tidak berfungsi menuju pantai Mediterania Suriah. Kesepakatan ini dapat mengembalikan peran historis Suriah sebagai koridor energi regional sekaligus menyediakan Irak jalur ekspor alternatif yang menghindari Selat Hormuz yang lumpuh akibat perang.
Proyek Pipa Minyak Kirkuk-Baniyas merupakan infrastruktur energi strategis lintas negara sepanjang 800–850 kilometer yang menghubungkan ladang minyak Kirkuk di Irak utara ke pelabuhan Baniyas di Suriah. Setelah mati suri lebih dari dua dekade akibat kerusakan perang dan ketegangan politik, proyek ini diaktifkan kembali lewat penandatanganan kesepakatan bilateral dan nota kesepahaman di Washington, D.C.
Proyek pemulihan pipa ini menjadi sorotan utama dalam paket kesepakatan bisnis senilai $60 miliar yang ditandatangani pada pertemuan US-Iraq High-Level Business Summit. Kapasitas angkut awal pipa diproyeksikan mencapai 2 juta barel per hari, dengan rute dari Kirkuk dan Haditha di Irak utara menuju Baniyas di pantai Mediterania Suriah.
Konsorsium Internasional
Proyek ini didukung penuh oleh pemerintah Amerika Serikat. Kementerian Luar Negeri AS mengonfirmasi keterlibatan konsorsium internasional yang dipimpin perusahaan Barat. Chevron (AS) menjadi motor utama yang memimpin konsorsium sekaligus melaksanakan studi kelayakan dan teknis. TI Capital (AS) bergabung dalam konsorsium finansial dan teknis, sementara UCC Holding (Qatar) menjadi mitra regional dalam pengerjaan konstruksi.
Dampak Bagi Suriah dan Irak
Bagi Suriah, kesepakatan ini memosisikan ulang negara tersebut sebagai hub transit energi vital bagi pasar Eropa dan Mediterania setelah bertahun-tahun terisolasi akibat perang sipil. Sementara itu, Irak diuntungkan dengan adanya jalur ekspor baru di tengah krisis Selat Hormuz yang menyebabkan produksi minyaknya merosot dari 4,2 juta barel per hari menjadi hanya 1,9 juta barel per hari pada pertengahan tahun.
Selain pipa minyak, paket $60 miliar ini juga mencakup investasi lain di sektor energi. ConocoPhillips sepakat mengakuisisi 42% saham di kompleks ladang minyak raksasa Kirkuk milik BP senilai sekitar $400 juta. Chevron juga akan memperluas produksi di ladang West Qurna 2 dan Nasiriyah. Di luar energi, SpaceX melalui Starlink akan melakukan ekspansi formal di Irak untuk modernisasi teknologi komunikasi.
Artikel Terkait
Iran Serang Suriah, Garda Revolusi Klaim Hantam Pusat Komando AS
IRGC Serang Pangkalan Militer Al-Tanf di Suriah sebagai Balas Dendam
375 Kg Emas Disita dalam Kasus Korupsi Mantan Pejabat Migas Irak
Korupsi di Irak dan Indonesia: Uang Miliaran Disembunyikan di Dinding hingga Brankas Tersembunyi