Serangan Iran ke sejumlah negara di Timur Tengah meluas. Pada Jumat (17/7), giliran Suriah yang menjadi sasaran. Garda Revolusi Iran mengklaim serangan itu berhasil menghantam pusat komando operasi khusus Amerika Serikat (AS) di pangkalan militer al-Tanf, Suriah. Hal ini dilaporkan oleh kantor berita Tasnim.
Serangan ke Suriah merupakan aksi balas dendam atas kematian prajurit Iran di Iranshahr, demikian pernyataan Garda Revolusi Iran seperti dikutip dari Al Jazeera.
Dalam kesempatan yang sama, Garda Revolusi Iran menegaskan akan terus mengendalikan Selat Hormuz. Seluruh aktivitas pengiriman minyak dan gas tidak diizinkan melintasi selat tersebut hingga AS menghentikan serangannya.
Rangkaian serangan Iran ke Suriah dan beberapa negara Timur Tengah lainnya merupakan respons atas operasi militer AS ke wilayah Iran yang telah berlangsung selama enam hari berturut-turut. Komando Pusat AS menyatakan tujuan serangan tersebut adalah untuk mengurangi kemampuan persenjataan Iran.
Meski ketegangan dan eskalasi serangan terus meningkat, Gedung Putih menyatakan Presiden AS Donald Trump tetap membuka pintu dialog. "Presiden akan meminta pertanggungjawaban mereka ketika mereka mengingkari kata-kata yang mereka ucapkan kepada Amerika Serikat. Namun, pada saat yang sama, beliau selalu terbuka untuk diplomasi," kata Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan.
Artikel Terkait
Pemerintah Imbau Pekerja Migran di Timur Tengah Tingkatkan Kewaspadaan Imbas Serangan AS ke Iran
IRGC Serang Pangkalan Militer Al-Tanf di Suriah sebagai Balas Dendam
Wapres AS JD Vance Tuding Ada Pihak di Israel Manipulasi Opini Publik AS Gagalkan Kesepakatan dengan Iran
Trump Klaim Kemenangan di Iran Segera Terlihat, Serangan Meluas