Pemerintah Indonesia bersama Konfederasi Swiss merampungkan perjanjian kerja sama di sektor mineral kritis dan logam. Kesepakatan itu ditandatangani melalui Memorandum of Understanding (MoU) tentang Enhanced Cooperation in the Minerals and Metals oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani, disaksikan Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Olivier Zehnder.
Penandatanganan ini melengkapi proses sirkuler yang telah dilakukan Presiden Konfederasi Swiss sekaligus Kepala Federal Department of Economic Affairs, Education and Research (EAER) Guy Parmelin pada 23 Juni 2026 di Basel, Swiss. Rosan menyebut penyelesaian MoU ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemitraan kedua negara di sektor mineral dan logam, sekaligus mendukung pengembangan investasi hilirisasi yang berkelanjutan.
“Swiss merupakan mitra yang ideal dengan keunggulannya di bidang teknologi, inovasi, keberlanjutan, pembiayaan, logistik, dan akses pasar global,” ujar Rosan dalam keterangan resmi, Jumat (17/6).
Dubes Zehnder menambahkan, MoU tersebut menjadi landasan baru bagi kedua negara untuk memperkuat kolaborasi yang saling melengkapi. “Nota kesepahaman ini memanfaatkan keunggulan yang saling melengkapi antara kedua negara, dengan menghubungkan potensi sumber daya Indonesia dengan teknologi, keahlian, dan modal dari Swiss di sepanjang rantai nilai, mulai dari investasi dan inovasi hingga praktik pengelolaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan,” jelasnya.
MoU ini merupakan tindak lanjut dari Expression of Interest yang ditandatangani pada 30 September 2025. Cakupan kerja sama meliputi promosi dan fasilitasi investasi, penguatan rantai pasok mineral dan logam yang berkelanjutan, pertukaran pengetahuan dan teknologi, pengembangan sumber daya manusia, penerapan praktik Environmental, Social, and Governance (ESG), pengembangan teknologi bersih (cleantech), peningkatan tata kelola industri hilir, hingga penyelenggaraan misi bisnis, seminar, pameran, pelatihan, dan business matching.
Pemerintah terus mendorong peningkatan nilai tambah mineral strategis nasional melalui pengembangan industri pengolahan dan manufaktur berteknologi tinggi, termasuk ekosistem baterai kendaraan listrik, energi terbarukan, dan industri hijau. Hubungan ekonomi Indonesia dan Swiss menunjukkan tren positif. Selama periode 2021 hingga kuartal I 2026, realisasi investasi Swiss di Indonesia mencapai sekitar USD 1,33 miliar, dengan sektor industri makanan, transportasi dan pergudangan, telekomunikasi, serta industri kimia dan farmasi sebagai kontributor utama.
Kerja sama ekonomi kedua negara juga diperkuat melalui implementasi Indonesia–European Free Trade Association (EFTA) Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA). Melalui MoU ini, Indonesia dan Swiss menegaskan komitmen bersama untuk membangun ekosistem industri mineral dan logam yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berorientasi pada nilai tambah. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat ketahanan rantai pasok global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan membuka peluang investasi baru.
Artikel Terkait
Argentina Tak Pernah Kalah dari Swiss, Rekor 58 Tahun Jadi Modal di Perempat Final Piala Dunia 2026
Argentina Bidik Rekor 72 Tahun Saat Hadapi Swiss di Laga Krusial
Swiss Akhirnya ke Perempat Final Piala Dunia Setelah 72 Tahun Menanti
Swiss ke Perempat Final Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Kolombia Lewat Adu Penalti