Di sebuah gang kecil di bantaran Sungai Cipinang, perbatasan Jakarta Timur dan Jawa Barat, berdiri Taman Baca Kampung Buku. Berbeda dari taman baca pada umumnya yang berada di pusat kota, tempat ini justru hadir di sudut pinggiran yang jauh dari hiruk-pikuk. Bangunannya sederhana, menyatu dengan rumah, dan dilengkapi saung di lantai dua. Namun, tempat ini tak pernah sepi dari anak-anak yang datang untuk membaca, belajar, dan bermain.
Taman baca yang berdiri sejak 2010 ini dikelola secara mandiri oleh Edi Dimyati. Ia mendirikan ruang kreatif ini dengan misi menjadi tempat bertemu bagi para pecinta buku sekaligus sarana berkreasi positif. Setiap hari, sekitar 40 anak dari RW 5 Kelurahan Cibubur rutin datang sepulang sekolah. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga belajar menulis, berhitung, dan membahas topik-topik yang tidak diajarkan di sekolah, dibimbing oleh Edi dan istrinya yang menjadi relawan.
Taman Baca Kampung Buku memiliki sekitar 4.500 koleksi buku, mulai dari buku anak-anak, pengetahuan umum, hingga bacaan dewasa. Uniknya, tempat ini tidak hanya menyajikan rak buku biasa. Ada spot membaca tematik seperti sudut komik penuh warna dengan meja estetik dan bendera berbagai negara, serta Ruang Ungu yang dilengkapi dua unit komputer untuk belajar mengetik dan mencari informasi di internet.
Edi menceritakan, ide mendirikan taman baca bermula dari kecintaannya pada buku sejak tinggal bersama bibinya. Ratusan koleksi buku yang ia miliki mendorongnya untuk berbagi pengetahuan kepada publik. Keprihatinan terhadap minimnya fasilitas literasi di tingkat RW juga menjadi motivasi. "Pengennya buku-buku itu bisa dimanfaatkan oleh orang banyak... Harusnya di setiap RW itu ada perpustakaan," ujarnya.
Perjalanan membesarkan taman baca tidak mudah. Edi terpaksa pindah lokasi dua kali, pada 2003 dan 2007, karena buku-bukunya basah terkena air hujan. Di lokasi ketiga yang sekarang, ia meminjam uang ke koperasi sebesar Rp5 juta pada 2009 untuk membangun saung agar koleksi bukunya terlindung. Hingga kini, biaya operasional seperti listrik dan perawatan buku masih ditanggung sendiri oleh Edi. Meski sesekali ada donasi dari pihak luar, bantuan rutin belum pernah ada sejak 2010.
Bagi Edi, taman baca ini bukan sekadar tempat literasi, tetapi juga alternatif rekreasi dan edukasi bagi anak-anak. "Dijadikan tempat rekreasi. Jadi, taman baca ini tempat bermain, tempat berwisata. Jadi, enggak hanya ke mal, taman baca atau perpustakaan juga bisa dijadikan salah satu pilihan untuk rekreasi," ungkapnya.
Artikel Terkait
Polisi Amankan Pengemudi Truk yang Aniaya Pria hingga Bergelantung di Cibubur
Polisi Jemput Sopir Truk Boks yang Dikabarkan Aniaya Pengejar Hingga Bergelantungan