Di tengah hiruk-pikuk ekonomi yang disebut-sebut sedang sulit, pengamatan langsung di salah satu mal terbesar di Samarinda justru menunjukkan gambaran yang kontras. Mal terlihat ramai, tetapi di balik keramaian itu tersimpan kisah tentang daya beli yang menipis.
Seorang pengunjung yang enggan disebutkan namanya menceritakan pengalamannya saat nongkrong di gerai Kopi Kenangan dekat rumahnya. Ia sengaja keluar setelah lama di rumah untuk melihat kondisi ekonomi secara langsung. Yang ia temukan: banyak tenant kosong, orang hilir mudik tanpa bawaan belanjaan, dan restoran hanya beberapa yang penuh. "Banyak yang beli pakai voucher TikTok," ujarnya.
Di area playground, hanya sedikit anak-anak bermain meski saat itu akhir pekan. "Beda jauh saat anak-anak saya masih kecil dulu, ramainya luar biasa," katanya.
Fenomena menarik terjadi di gerai kopi. Saat ia nongkrong bersama teman di tengah hari, tempat itu penuh orang. Namun, setelah diperhatikan, sebagian besar pengunjung hanya memesan satu minuman dan duduk berjam-jam tanpa menambah pesanan. "Ada yang bergerombol ngobrol, ada yang sambil kerja bawa laptop," tuturnya.
Ia dan temannya hanya membeli dua kopi dan nongkrong selama tiga jam. Selama itu, jumlah pengunjung tidak berkurang, malah bertambah. "Yang datang sebelum kami tetap stay saat kami pulang. Berarti lebih dari tiga jam," katanya.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa mal dan kafe terlihat ramai, tetapi pengunjungnya itu-itu saja dan cenderung berhemat. "Modal satu kopi, sudah numpang AC, numpang cas HP dan laptop berjam-jam, numpang toilet. Untungnya tidak numpang mandi sekalian," candanya.
Ia memperkirakan bahwa pengeluaran seperti itu cukup memberatkan kafe. "Apakah masih untung? Jelas masih, tapi tidak banyak," pungkasnya.
Artikel Terkait
Dendam Bau Kentut Berujung Penusukan dengan Sangkur di Samarinda
Jumlah Korban Kekerasan Seksual di Ponpes Samarinda Bertambah Jadi Empat, Polisi Selidiki Modus Nikah Batin