Kapitalisme terus bertahan meski hanya menguntungkan segelintir orang. Pertanyaannya, mengapa ideologi ini begitu kokoh? Jawabannya mungkin terletak pada tujuh dosa besar manusia: kesombongan, keserakahan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, dan kemalasan. Kapitalisme memelihara dosa-dosa ini dan menjadikannya komoditas yang dinikmati oleh segelintir orang, sementara banyak pihak lainnya termasuk alam dieksploitasi untuk memproduksi komoditas tersebut.
Data Oxfam menunjukkan, kekayaan miliarder meningkat lebih dari 16% pada 2025, tiga kali lebih cepat dibandingkan lima tahun sebelumnya. Kesenjangan ini semakin lebar, dan hanya sedikit orang yang bisa menikmati hasil dari sistem yang ada.
Media turut berperan memelihara kesombongan dan keserakahan para miliarder, menjadikannya standar kesuksesan. Kesuksesan diukur dari komoditas barang-barang yang menunjukkan kelas ekonomi seseorang. Media sosial, produk kapitalisme, juga memelihara iri hati. Gaya hidup mewah influencer tas bermerk, rumah mewah, kosmetik high-end tampak utopis. Data Money and Health menyebut, 29% orang aktif membandingkan kehidupan mereka dengan yang ditampilkan di media sosial, dan hal itu mengganggu kesehatan mental. Kapitalisme berhasil mengubah rasa “kurang” menjadi iri hati, mendorong pembelian untuk merasa setara.
Konsumerisme adalah gaya hidup yang dipelihara kapitalisme. Kerakusan dan kemalasan menjadi peluang bagi kapitalis untuk dimonetisasi, membuat manusia bergantung pada sistem yang memanjakan. Ketergantungan ini mengikis kemandirian dan mengubah pola pikir serta tindak laku.
Kapitalisme mengakar menjadi hegemoni yang mulus. Masyarakat berpikir bahwa dunia memang begini: menguntungkan segelintir orang. Hegemoni ini berasal dari kapitalisasi yang menjadi budaya, disebarkan melalui seni drama, film, lukisan, karya sastra, dan media sosial.
Kembali ke tujuh dosa besar, kapitalisme menciptakan komoditas yang memuaskan dosa-dosa itu. Ponsel, misalnya, adalah hasil kapitalisme yang bisa digunakan untuk memuaskan kerakusan, mencari validasi, menjadi tolok ukur eksistensi, atau pemuas hawa nafsu. Namun, kita tidak bisa begitu saja lepas dari ponsel. Lantas, bisakah kita lepas dari kapitalisme?
Dalam artikel "The Economics of the Seven Deadly Sins", Julien Chevalier menawarkan moderasi: kebanggaan menjadi ambisi, ketamakan menjadi moderasi, kerakusan menjadi rasa, nafsu menjadi sensualitas, iri hati menjadi inspirasi, kemarahan menjadi kekesalan, kemalasan menjadi perenungan. Visi baru ini harus digerakkan semua sektor karena keseimbangan akan melawan penyimpangan. Namun, moderasi ini pun bisa dieksploitasi kapitalisme.
Untuk meredam kapitalisme, diperlukan kekompakan masyarakat. Kesadaran diri akan membawa kesadaran bersama; langkah kecil akan menjadi langkah besar ketika dilakukan bersama-sama.