Program pembangunan koperasi merah putih di sejumlah daerah menuai kritik karena lokasi yang dinilai tidak strategis. Di Kampung Kuningan, Jawa Barat, koperasi dibangun di tempat yang jauh dari pemukiman warga, sehingga diragukan akan berfungsi optimal.
Seorang akademisi asal Kuningan, Zezen Zaenal Mutaqin, mengungkapkan bahwa desa dipaksa menyediakan tanah oleh aparat Komando Distrik Militer (Kodim). Akibatnya, pembangunan dilakukan tanpa mempertimbangkan aksesibilitas. "Yang ada di kepala aparat: yang penting dibangun," ujarnya.
Menurut Zezen, aparat setempat meyakini program itu tidak akan berjalan dengan baik. Mereka berharap bangunan tersebut nantinya bisa dijadikan gudang, sementara truk yang disediakan setidaknya menjadi milik desa. "Orang yang akan menjalankan usahanya digaji negara. Jadi laku atau tidak, berhasil atau tidak koperasi itu menjadi tidak penting," tambahnya.
Zezen menyebut program ini sebagai "program ajaib" karena dilakukan dengan keyakinan pasti gagal. Ia adalah Ketua Program Studi Magister di Fakultas Studi Islam, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok.
Artikel Terkait
Pengamat: 80-85 Persen Koperasi Merah Putih Berpotensi Gagal di Tahun Ketiga
Evaluasi Pelatihan Koperasi Merah Putih: Dari Latihan Militer ke Pembekalan Manajerial
Kemhan Hapus Latihan Militer untuk Peserta Program Koperasi Desa, Ganti dengan Pembekalan Bela Negara
Pemerintah Evaluasi Latihan Militer Peserta SPPI Usai Lima Orang Meninggal