Safari Budaya Jokowi Disorot: Kritik Tajam Rizal Fadhillah soal Simbol Kepala Kerbau

- Sabtu, 04 Juli 2026 | 11:25 WIB
Safari Budaya Jokowi Disorot: Kritik Tajam Rizal Fadhillah soal Simbol Kepala Kerbau

Pemerhati politik dan kebangsaan Rizal Fadhillah mengkritik rangkaian safari budaya yang dilakukan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Kritik itu dipicu oleh prosesi adat di Lampung yang memperlihatkan Jokowi menginjak kepala kerbau dalam sebuah ritual.

Dalam pernyataan yang diterima pada Sabtu (4/7/2026), Rizal menyebut prosesi tersebut sebagai simbol yang memunculkan beragam tafsir dan kontroversi. "Masih bergidig mengerikan membayangkan upacara adat di Lampung saat Jokowi menginjak kepala kerbau di atas hamparan karpet berwarna merah. Simbolik multi makna yang menimbulkan kontroversi," ujarnya.

Menurut Rizal, peristiwa itu menjadi awal dari polemik yang terus berlanjut dalam agenda safari Jokowi ke berbagai daerah. Ia mempertanyakan narasi bahwa kunjungan tersebut merupakan undangan masyarakat. Bahkan, Rizal menyebutnya sebagai "undangan asli tapi palsu" dan mengklaim telah muncul penolakan dari sebagian masyarakat.

Rizal juga menyatakan bahwa agenda safari Jokowi disebut akan berlanjut ke Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Jawa Barat. "Seperti biasa agendanya menunggangi budaya bersama PSI. Narsis merasa masih dicintai dan dielu-elukan rakyat padahal yang datang menyambut adalah para pecinta amplop," katanya.

Dalam pandangannya, Jokowi dinilai masih merasa memiliki pengaruh politik yang besar meski telah mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden. "Seperti kena jampi-jampi Jokowi yang sudah tamat merasa tetap eksis dan berkuasa. Raja itu jalan-jalan telanjang tetapi merasa berbaju tebal dan indah. Orang mentertawakan dianggap sedang bertepuk tangan," ujarnya.

Rizal kemudian menggunakan analogi mitologi Yunani untuk menggambarkan kritiknya. Ia menyebut kepala kerbau yang sebelumnya diinjak seolah "berpindah" menjadi kepala manusia, yang diibaratkannya seperti tokoh Minotaur dalam mitologi Yunani. "Mungkin seperti dalam mitologi Yunani manusia berkepala kerbau Minotaur yang buas senang memangsa manusia. Lahir dari Ratu Kreta bernama Pasifae yang jatuh cinta kepada seekor kerbau. Raja Minos mengurung dalam gua rumit jebakan Labirin. Kebuasannya tidak dapat berhenti, hingga seorang pahlawan Yunani Theseus dapat membunuhnya," paparnya.

Selain mitologi Yunani, Rizal juga mengaitkan analoginya dengan mitos dalam budaya Nusantara. Menurutnya, dalam budaya populer Indonesia dikenal sosok manusia berkepala kerbau sebagai siluman penunggu tempat-tempat keramat, salah satunya Mahesa Sura atau Lembu Sura di Gua Kiskendo, Kulon Progo. "Dalam kisah pewayangan siluman Mahesa Sura atau Lembu Sura dari Gua Kiskendo itu dikalahkan oleh Sugriwa dan Subali," ujarnya.

Lebih lanjut, Rizal menggunakan istilah "manusia berkepala kerbau" sebagai metafora bagi orang yang dinilainya tidak menggunakan akal sehat. "Orang berkepala kerbau dikenal untuk sebutan manusia dungu yang tidak tahu diri. Raganya manusia tapi otaknya kerbau. Penurut jika sudah dicocok hidungnya, dikendalikan oleh nafsu kekuasaan dan uang, sombong karena merasa besar dan kuat, berilusi mampu memimpin, serta sok manfaat bagi petani dan rakyat kecil. Manusia kepala kerbau itu himpunan orang-orang klenik dan mistik. Meminggirkan akal sehat dan hati yang bersih," katanya.

Di bagian akhir pernyataannya, Rizal kembali mengkritik aktivitas Jokowi yang menurutnya masih aktif melakukan safari ke berbagai daerah. "Jokowi kini merasa sehat dan kuat, percaya diri untuk mampu berlari cepat. Curi start namanya. Menunggangi apa yang bisa ditunggangi termasuk budaya. Mau menyapa masyarakat demi momong anak cucu. Menghindari diri dari hiruk pikuk ijazah yang dituduh palsu," ujarnya.

Rizal menutup pernyataannya dengan sebuah metafora. "Kemarin injak kepala kerbau sekarang mengendalikan kerbau. Besok, abracadabra menjadi siluman kepala kerbau," pungkasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags