Tokoh masyarakat Sumatera Utara, Masri Sitanggang, menyampaikan nasihat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. Dalam surat yang dirilis pada Selasa, 30 Juni 2026, aktivis senior itu mengemukakan sepuluh poin kritik membangun agar kebijakan pemerintah lebih berpihak pada rakyat.
Masri mengawali dengan meminta Presiden mengurangi pidato dan fokus merealisasikan janji kampanye. "Berhentilah banyak pidato, kerjakan saja apa yang telah Anda pidatokan. Ini bukan lagi masa kampanye," tulisnya. Ia menilai rakyat sudah gelisah menunggu realisasi janji selama 20 bulan pemerintahan.
Dalam poin kedua, Masri mengingatkan agar Presiden benar-benar mendengar keluh kesah rakyat, bukan hanya laporan pejabat yang cenderung menjilat. "Janganlah sekali-kali abaikan jeritan hati rakyat," tegasnya.
Ia juga menyoroti kebutuhan pokok rakyat yang sederhana: tercukupi pangan, sandang, papan, layanan kesehatan, dan pendidikan. Masri mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilainya tidak mendidik dan rawan korupsi. Ia menyarankan agar program itu diganti dengan pembebasan tagihan listrik, air, atau pajak.
Soal pajak, Masri menilai beban rakyat terlalu berat. Ia mengingatkan bahwa 85,41 persen APBN berasal dari pajak, sementara kontribusi pengelolaan kekayaan alam hanya 14,59 persen. "Bagaimana mungkin rakyat sejahtera bila terus dibebani pajak?" tanyanya.
Ia juga mendorong penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu. "Hukum harus tajam ke atas dan ke bawah. Jangan biarkan ada warga negara kebal hukum karena jabatan," katanya.
Masri menyarankan tiga prioritas kerja: memburu koruptor, menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau, dan membuka lapangan kerja. Ia meminta Presiden tidak memikirkan periode kedua agar fokus pada kinerja.
Dalam poin kesembilan, ia mengingatkan potensi besar Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar dan organisasi Islam berpengaruh. "Kelola potensi ini, jadilah pemimpin Dunia Islam," ujarnya.
Terakhir, Masri menyarankan Indonesia keluar dari Board of Peace dan bergabung dengan aliansi "NATO" Dunia Islam yang diprakarsai Turki, Pakistan, dan Arab Saudi. Ia menilai ide mengakui Israel adalah upaya sia-sia.
Nasihat ini, kata Masri, didorong rasa cinta pada negeri. "Saya ingin rakyat kita hidup makmur. Sudah 81 tahun merdeka, sepantasnya mereka menikmati kesejahteraan," pungkasnya.
Artikel Terkait
Prabowo Apresiasi Peran Polri Bangun Gudang Pangan hingga Dapur MBG
Peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Polri Gelar Atraksi Terjun Payung Kibarkan Foto Prabowo
Prabowo Puji Polri: Serba Bisa, dari Tangani Bencana hingga Jaga Harga Pangan
Pimpin Upacara HUT ke-80 Bhayangkara, Prabowo Periksa Pasukan Bersama Kapolri