Pentingnya Membaca dan Berpikir Kritis: Pelajaran dari Fatimah Azzahara

- Selasa, 30 Juni 2026 | 05:40 WIB
Pentingnya Membaca dan Berpikir Kritis: Pelajaran dari Fatimah Azzahara

Fatimah Azzahara, seorang mahasiswa, menjadi sorotan karena kualitas argumennya dalam sejumlah wawancara dengan politisi di televisi dan media sosial. Bukan sekadar keberanian bicara, ia mampu menyusun argumen berdasarkan bacaan, data, dan literatur, bukan sekadar dari apa yang didengar.

Penulis Cut Meutia mengapresiasi kemampuan Fatimah yang dinilai sebagai contoh kesadaran kritis atau critical consciousness. Kesadaran ini, menurutnya, hanya bisa dicapai melalui proses belajar yang serius dan budaya membaca yang kuat.

"Ilmu akan membuat seseorang menjadi pintar dan menjelma menjadi pribadi yang kritis," tulis Cut Meutia, menekankan bahwa berpikir kritis lahir dari kebiasaan membaca. Semakin luas bacaan, semakin kuat argumentasi seseorang. Ilmu, lanjutnya, akan selalu melahirkan sikap kritis yang ditakuti oleh kekuasaan.

Cut Meutia juga mengkritik program pemerintah yang terlalu fokus pada pemenuhan kebutuhan fisik, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), tanpa diimbangi dengan penguatan pendidikan, budaya membaca, riset, dan ruang diskusi. Ia menegaskan bahwa kualitas bangsa tidak hanya ditentukan oleh rakyat yang perutnya kenyang, tetapi juga oleh rakyat yang otaknya kenyang.

"Mereka lebih memilih program yang memperbuncit perut dibandingkan program yang memperbuncit otak," tulisnya, menyoroti ketidakpedulian penguasa terhadap pendidikan dan literasi.

Dalam perdebatan antara Fatimah dan politisi, Cut Meutia melihat kontras yang jelas. Argumen politisi lebih banyak berasal dari pengalaman politik dan retorika, sementara argumen Fatimah disusun dari bacaan, data, dan referensi. Ia mengingatkan bahwa dalam demokrasi modern, legitimasi argumen tidak cukup hanya dari jabatan, tetapi juga dari kualitas pengetahuan.

Cut Meutia pun menyarankan partai politik untuk lebih banyak menampilkan juru bicara yang "otaknya buncit" kaya literasi, menguasai data, dan mampu berdialog secara ilmiah bukan yang buncit perutnya. "Sudah tak sedap dipandang, mendengarnyapun jadi mual," pungkasnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags