Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menilai kondisi intervensi kekuasaan terhadap institusi publik di Indonesia saat ini lebih parah dibandingkan era Orde Baru. Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara dengan Forum Keadilan TV yang tayang pada Senin (29/6/2026).
"Dulu memang ada pesan-pesan kepada ormas seperti NU dan Muhammadiyah, tapi tidak sekasar sekarang. Sekarang diintervensi baik dengan kekuasaan maupun dengan uang," tegasnya.
Ia mencontohkan proses pemilihan rektor perguruan tinggi yang kini praktis berada di tangan menteri, mengalahkan otoritas senat universitas dan para guru besar. Bahkan, dalam sebuah rapat kabinet, seorang menteri secara eksplisit mengusulkan agar rektor cukup ditunjuk langsung oleh presiden. Sosok yang ia maksud adalah Luhut Binsar Pandjaitan, yang menurutnya juga pernah sangat vokal mendorong pembubaran Komite Aparatur Sipil Negara (ASN). Usulan itu kemudian terealisasi melalui revisi undang-undang.
Sudirman juga mengkritik pemberian konsesi tambang kepada organisasi keagamaan. Menurutnya, kebijakan itu menjadi instrumen yang terbukti mengoyak keutuhan ormas-ormas tersebut dari dalam.
Artikel Terkait
Pemerintah Kini Ambil Alih Utang Kereta Cepat, Janji B2B Dipertanyakan
Sudirman Said Diperiksa Kejaksaan Agung untuk Kasus Petral
Luhut dan Tony Blair Bahas Percepatan Digitalisasi Birokrasi untuk Pelayanan Publik
Acara Diskusi Eks Menteri ESDM Mendadak Pindah ke Kedai Kopi, Sindir Pembatasan Ruang