FIFA di Antara Politik dan Standar Ganda

- Senin, 29 Juni 2026 | 06:00 WIB
FIFA di Antara Politik dan Standar Ganda

Klaim bahwa olahraga dan politik tidak boleh dicampuradukkan kembali diuji, kali ini dalam konteks penolakan sebagian rakyat Indonesia terhadap keikutsertaan timnas U17 Israel. Namun, FIFA sendiri bukanlah organisasi yang steril dari politik. Badan sepak bola dunia ini jelas mewakili kepentingan politik tertentu.

Rusia, misalnya, diembargo dari seluruh event FIFA sebagai hukuman atas invasi ke Ukraina. Namun, FIFA tidak berani mengambil langkah serupa terhadap Israel, meskipun negara itu dituding melakukan genosida di Palestina. Baru-baru ini, Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, memicu perang dan menewaskan warga sipil serta anak-anak. FIFA pun tetap diam.

Ketidakadilan ini kian terlihat pada gelaran Piala Dunia 2026. Timnas Iran berhasil lolos melalui seleksi ketat, tetapi menghadapi diskriminasi sejak awal. Ketidakpastian visa untuk bertanding di Amerika Serikat menghantui mereka. Begitu visa akhirnya diperoleh, hampir separuh tim teknis tidak diizinkan masuk AS. Lebih parah lagi, timnas Iran dilarang menginap di AS, sehingga mereka memilih Tijuana, Meksiko, sebagai basis. Setiap kali bertanding, mereka harus menempuh perjalanan berjam-jam, melewati pemeriksaan imigrasi yang ketat, dan dua jam setelah peluit akhir, mereka harus segera meninggalkan AS.

FIFA, yang seharusnya bertanggung jawab terhadap kenyamanan setiap negara undangan, tidak berdaya. Organisasi itu hanya menjadi pelayan, tunduk pada politik. Sepak bola dunia menunjukkan ketidakadilan secara terang-terangan, dan semua itu terjadi atas nama FIFA.

Meski menghadapi tekanan berat, diskriminasi, dan pembatasan, timnas Iran tidak pernah kalah selama Piala Dunia 2026. Seluruh pertandingan mereka berakhir imbang. Namun, mereka juga tidak pernah menang. Pertandingan terakhir melawan Mesir berlangsung dramatis: gol terakhir Iran dianulir karena offside yang terus diperdebatkan. Keputusan itu membuat skuad Iran harus pulang.

Bohong besar jika ada yang mengatakan sepak bola terlepas dari politik. Di ajang Piala Dunia 2026, politik berbicara lebih keras daripada olahraga. Ketidakadilan lebih terasa ketimbang sportivitas. Amerika Serikat dan Barat tampak ketakutan terhadap Iran, meskipun yang dihadapi hanyalah tim sepak bola.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags