Diskusi Aktivis API Perubahan Indonesia Serukan Penuntasan Oligarki dan Korupsi

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 13:25 WIB
Diskusi Aktivis API Perubahan Indonesia Serukan Penuntasan Oligarki dan Korupsi

Diskusi yang digelar Aktivis API Perubahan Indonesia (aPI) dalam forum NgoPi (Ngobrol Pintar) Break Jumatan di KopiZo, Percetakan Negara IV, menghasilkan tiga tuntutan utama: ganyang oligarki, ganyang koruptor, dan adili Jokowi. Tema yang diangkat adalah 'NKRI Berdaulat dan Krisis Multidimensi', dengan pembicara Daeng Wahidin, Standarkia Latief, Ishak Rofiq, Thomas, dan Muslim Arbi.

Thomas membuka diskusi dengan menjawab isu seputar pemerintahan Prabowo. Peserta bernama Katje mengkritik kehadiran Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam demonstrasi mahasiswa, mempertanyakan urgensi keterlibatan militer di aksi sipil.

Standarkia Latief menyoroti tema NKRI Berdaulat yang menurutnya telah 'keok' di tangan oligarki. Ia menilai 80% rakyat Indonesia hanya numpang di negerinya sendiri. Peserta bertepuk tangan saat ia menyebut Pasal 33 UUD 1945 hanya sebatas omong kosong dan masih fatamorgana.

Ishak Rofiq menyoroti ketidakadilan akibat korupsi pejabat yang massif dan kongkalikong dengan oligarki, terutama selama 10 tahun pemerintahan Jokowi. Menurutnya, puluhan hingga ratusan Proyek Strategis Nasional (PSN) sengaja dirancang untuk oligarki 'chino' dengan nilai fantastis, mengeksploitasi rakyat dan sumber daya alam. Ia mencontohkan kasus Rempang dan PIK 2, di mana terjadi suap dan korupsi di berbagai level.

Diskusi memuncak saat Daeng Wahidin menyampaikan bahwa sumber kerusakan NKRI adalah oligarki yang telah mengakar puluhan tahun dan secara estafet menindas bangsa. Ia mengkritik UU Omnibus Law yang dibuat era Jokowi sebagai bancakan oligarki untuk mengeksploitasi buruh, petani, nelayan, dan masyarakat kecil. Daeng mendukung program Prabowo menutup pintu penyelundupan dan ekspor ilegal sumber daya alam, yang menurut catatannya dilakukan sekitar 30 perusahaan. Pemberlakuan ekspor satu pintu melalui PP Nomor 24 Tahun 2026 dinilai sebagai langkah tepat menuju NKRI berdaulat.

Menjawab pertanyaan peserta Fadil soal program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kegagalan Prabowo mengatasi krisis, Daeng menjelaskan bahwa langkah Prabowo saat ini adalah siasat hati-hati dalam kompleksitas politik. Ia menyebut Prabowo seperti makan bubur panas, membenahi dari pinggir satu per satu. Daeng menambahkan bahwa Prabowo konsisten membenahi program MBG, terbukti dengan efisiensi anggaran dan penangkapan pelaku korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk orang terdekatnya.

Muslim Arbi menekankan bahwa NKRI tak berdaulat dan dilanda krisis multidimensi karena bangsa ini tak serius membenahi tata kelola kekayaan alam. Ia menuding pejabat bersama oligarki mengkorupsi sumber daya secara berjamaah, sementara rakyat dibiarkan miskin dan tertindas. Ia mengajak mendukung Prabowo jika benar-benar serius melawan oligarki.

Pemimpin diskusi, MN Lapong, menyimpulkan substansi suara kritis peserta dan akan melanjutkan diskusi berikutnya dua minggu sekali dalam forum NgoPi Break Jumatan. Diskusi ditutup dengan teriakan semangat: 'Ganyang Oligarki, Ganyang Koruptor, dan Adili Jokowi' sebagai biang kerusakan multidimensi di bidang politik, ekonomi, dan hukum.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags