Mahfud MD: Saya Tak Pernah Ingin Mencalonkan Diri, tapi Akan Tetap Kritis

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Mahfud MD: Saya Tak Pernah Ingin Mencalonkan Diri, tapi Akan Tetap Kritis

Pakar hukum tata negara Mahfud MD buka suara mengenai kritik dan apresiasinya terhadap kebijakan Presiden Prabowo. Ia menegaskan bahwa sikap kritisnya bukan karena kalah dalam Pilpres 2024, melainkan sudah menjadi bagian dari dirinya sejak lama.

Menanggapi tudingan bahwa ia banyak bersuara karena tidak lagi berada di pemerintahan, Mahfud mengaku akan tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Ia meyakini tidak semua orang yang bertanya adalah buzzer; ada anak muda yang belum mengetahui perjuangannya saat menjabat di eksekutif, yudikatif, dan legislatif.

"Satu yang tidak tahu anak-anak Gen Z, kedua yang selalu nyinyir itu yang selalu mendapat info nyinyir dari buzzer itu supaya tahu ini yang terjadi. Lalu, tadi ada pertanyaan itu jangan-jangan Bapak apa namanya kalah Pilpres, lalu sekarang tidak. Saya sebelum ikut Pilpres, sebelum kalah Pilpres dan sesudahnya ya tetap sejak dulu begitu karena saya bukan siapa-siapa," kata Mahfud dalam podcast Terus Terang Mahfud MD di YouTube Mahfud MD Official, Senin (10/08/2026).

Soal Pilpres 2024, Mahfud menegaskan bahwa semua sudah selesai setelah Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan. Meskipun secara politik ia menilai ada kecurangan yang terbukti dengan dicopotnya Ketua MK Anwar Usman karena pelanggaran berat, negara harus tetap berjalan. "Ya kita gugat ke MK. Begitu MK memutus kalah, ya sudah, jalan Anda berdua menang, kan begitu. Langsung Pak Prabowo, Pak Gibran, Anda berdua menang, silakan. Selamat menjalankan tugas, negara harus jalan, tidak boleh mengganggu karena orang kalah. Bukan berarti kita tidak boleh kritis, saya akan tetap kritis kalah atau menang," ujarnya.

Mahfud juga menegaskan bahwa ia tidak pernah secara personal ingin mencalonkan diri sebagai presiden atau wakil presiden. Ia tidak punya uang dan tidak punya partai. Keikutsertaannya dalam kontestasi selalu karena diminta, seperti saat diminta Megawati Soekarnoputri menjadi cawapres mendampingi Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

"Saya tidak pernah ingin mencalon-calonkan diri sebagai capres atau cawapres karena saya tidak punya uang, tidak punya partai juga. Konon masuk PDIP biayanya mahal, miliaran, triliunan, dari mana saya? Tapi, begitu Bu Mega memanggil, Pak Mahfud tidak perlu pakai duit, negara ini perlu penegakan hukum, soal duit nanti ada yang mengurus panitia, duit kampanye Pak Mahfud tidak usah mengurus," katanya.

Hal serupa terjadi pada Pilpres 2019. Saat itu, Presiden Joko Widodo memintanya menjadi cawapres, namun batal karena ditolak partai pendukung. Mahfud mengaku tidak masalah dan akhirnya diminta membantu di pemerintahan sebagai Menkopolhukam periode 2019-2024. "Saya juga tidak melamar sama sekali. Oleh sebab itu, yang akan datang pun saya tidak akan melamar-lamar, tidak. Saya tahu diri tidak punya duit dan tidak punya partai, tapi saya akan tetap berkontribusi kepada negara ini minimal bicara seperti ini agar rakyat sadar kita punya negara yang sangat besar yang harus kita jaga bersama," pungkasnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags