Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia, Fathimah Azzahra, mendadak menjadi sorotan publik setelah tulisannya berjudul "Bangsaku" dimuat di Harian Kompas pada 18 Agustus 2026. Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Prabowo, advokat senior Denny Indrayana mengangkat kisah Fathimah sebagai cermin ketulusan perjuangan yang dinilainya semakin langka di tengah kekuasaan.
Denny, yang juga mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM, mengaku tidak mengenal Fathimah secara pribadi. Namun, ia melihat semangat yang sama dalam diri mahasiswa tersebut: keberanian bersuara di hadapan kekuasaan. Ia mencontohkan bagaimana Fathimah dan rekannya tetap berdemo meski dihalangi aparat saat hendak menuju Bundaran Hotel Indonesia, sebuah kawasan yang kini dipenuhi hotel asing.
"Bagi saya Fathimah adalah harapan. Gibran tidak. Maafkan saya menyatakan apa adanya," tulis Denny dalam suratnya yang beredar luas. Ia menilai pidato Presiden Prabowo cenderung membosankan dan sering salah hitung, sementara orasi Fathimah justru membawa kekuatan perjuangan yang tulus.
Denny mengutip pesan Ustadz Adi Hidayat tentang pentingnya kebersihan hati dan ketulusan niat dalam setiap perjuangan. Menurutnya, perbedaan cara menyampaikan cinta Indonesia antara Fathimah dan penguasa terletak pada kadar ketulusan. "Sedikit saja terlihat ada warna kemunafikan, maka kekuatan dan wibawa pesan itu pasti menghilang," tegasnya.
Ia juga mengingatkan pesan Megawati Soekarnoputri kepada Joko Widodo pada 2015 tentang "sisi gelap" kekuasaan. Denny menilai sisi gelap itu kini semakin pekat di Istana, ditandai dengan inkonsistensi kebijakan, seperti pembukaan posisi sipil bagi TNI/Polri yang cepat, sementara UU Asset Recovery tak kunjung digolkan. "Mengejar koruptor hingga ke Antartika terasa kuat hanya basa-basi," sindirnya.
Paradoks lain yang disorot adalah penyatuan Jokowi dengan semangat antikorupsi, padahal tindakan paling mendasar adalah tidak melanggar konstitusi, termasuk tidak cawe-cawe dalam pemilu dan tidak memaksakan Gibran menjadi wakil presiden. "Dari Fathimah seharusnya kita belajar mencintai Indonesia apa adanya, tanpa pamrih," tulis Denny.
Ia menutup suratnya dengan peringatan: jika Presiden Prabowo tidak segera menemukan kembali ketulusan, maka kekuatan mahasiswa dan rakyat akan menggulungnya. "Sebab, jika gagal, maka bersiaplah digulung oleh kekuatan Fathimah, kekuatan mahasiswa, kekuatan rakyat, kekuatan kami yang tidak kaya-raya, tapi mencintai Indonesia apa adanya."
Artikel Terkait
Denny Indrayana Kritik UU Kementerian Negara: Cek Kosong yang Membuka Peluang Korupsi
Merawat Rasa Memiliki: Esai Mahasiswa UI tentang Bangsa dan Tanggung Jawab
Tuduhan Syiah ke Aktivis BEM UI Dinilai Bentuk Panik Penguasa
Denny Indrayana: Hadiah Sayembara Ijazah SMA Gibran Tembus Rp1 Miliar