Universitas Perwira Purbalingga (UNPERBA) berencana membuka tiga program studi baru pada 2026. Ketiganya adalah Hukum Bisnis, Teknik Komputer, dan Teknik Industri. Rencana ini telah mendapat rekomendasi dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VI Jawa Tengah dan kini menunggu evaluasi serta izin dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah, Bambang Soesatyo, yang juga pendiri UNPERBA, mengatakan penambahan prodi ini merupakan langkah strategis untuk memperluas akses pendidikan tinggi dan menyesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha serta perkembangan ekonomi daerah.
"Hukum Bisnis kami pandang penting karena aktivitas ekonomi semakin kompleks dan membutuhkan sumber daya manusia yang memahami aspek hukum sekaligus bisnis. Teknik Komputer dan Teknik Industri juga sangat strategis karena transformasi digital dan perkembangan industri membutuhkan tenaga profesional yang menguasai teknologi serta mampu meningkatkan efisiensi proses produksi," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).
UNPERBA yang berdiri pada 8 November 2018 ini saat ini memiliki lima program studi: S-1 Manajemen, S-1 Akuntansi, S-1 Agribisnis, S-1 Teknik Mesin, dan S-1 Teknik Informatika. Dengan tambahan tiga prodi baru, diharapkan kampus ini semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Rektor UNPERBA, Eming Sudiana, turut hadir dalam pertemuan dengan Bamsoet di Jakarta, Selasa (11/8/2026). Pembukaan prodi baru ini juga didasarkan pada data ketenagakerjaan daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angkatan kerja di Purbalingga pada Agustus 2025 mencapai 612,82 ribu orang, naik 14,15 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, penduduk yang bekerja mencapai 583,24 ribu orang, dengan 46,12 ribu orang di antaranya bekerja di sektor industri. Tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,83 persen.
Bamsoet menekankan pentingnya menyelaraskan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri. "Jangan sampai perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, karena kompetensinya tidak sesuai kebutuhan industri. Ini persoalan nasional. Pada 2025 masih terdapat sekitar 1,01 juta lulusan perguruan tinggi yang menganggur, dari sekitar 7,28 juta pengangguran terbuka," jelasnya.
Ia juga menyoroti tantangan perluasan akses pendidikan tinggi. Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi Indonesia pada 2025 baru mencapai 32,89 persen. Pada tahun yang sama, perguruan tinggi di Indonesia meluluskan sekitar 1,26 juta sarjana. Menurut Bamsoet, jumlah lulusan yang besar harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dan relevansi kompetensi agar bonus demografi dapat menjadi kekuatan produktif menuju Indonesia Emas 2045.
"UNPERBA dibangun dengan semangat bahwa anak-anak Purbalingga dan daerah sekitar harus memiliki kesempatan memperoleh pendidikan tinggi yang berkualitas tanpa harus selalu pergi jauh ke kota-kota besar. Kami ingin UNPERBA tumbuh sebagai kampus yang dekat dengan masyarakat, memahami kebutuhan daerah, serta memiliki wawasan nasional dan global," pungkas Bamsoet.
Artikel Terkait
Bamsoet Apresiasi Mahasiswi UPH Raih Juara Pilmapres Nasional 2026
Bamsoet Ajak Komunitas Otomotif Jaga Soliditas dan Perkuat Persatuan Bangsa
Bamsoet: Rumah Sakit Hadapi Tantangan Kompleks di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Wasit Tarkam di Purbalingga Dikeroyok Suporter, Laporan Polisi Dilayangkan