Analis: Kasus Suap Blueray Cargo Bukan Korupsi Biasa, Ada Persaingan Politik TNI vs Polri

- Jumat, 26 Juni 2026 | 16:25 WIB
Analis: Kasus Suap Blueray Cargo Bukan Korupsi Biasa, Ada Persaingan Politik TNI vs Polri

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai kasus dugaan suap pengurusan impor yang melibatkan Blueray Cargo tidak sekadar persoalan korupsi. Di baliknya, ia melihat ada unsur persaingan politik yang melibatkan dua institusi besar: Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Menurut Uchok, penanganan perkara yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejauh ini belum menyentuh oknum-oknum dari kepolisian, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), maupun Kementerian Perdagangan. Padahal, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Hartanto seorang pegawai Blueray mengaku telah menyerahkan sejumlah uang kepada oknum aparat penegak hukum di tingkat kecamatan dan kota madya atas perintah John Field, bos perusahaan tersebut.

“Kasus John Field atau suap Blueray Cargo bukan kasus korupsi semata, tetapi ada unsur politiknya. Ada persaingan politik untuk rebutan jabatan strategis sipil antara tentara dan polisi,” kata Uchok, Jumat (26/6/2026).

Ia menambahkan, indikasi persaingan itu makin jelas ketika KPK yang saat ini dipimpin oleh seorang jenderal polisi justru memfokuskan penyidikan pada institusi Bea dan Cukai. Lebih spesifik lagi, pada Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budhi Utama, yang disebut menerima uang suap sebesar 213.600 dolar Singapura.

“Sepertinya KPK yang dipimpin oleh jenderal polisi ini sengaja fokus kepada institusi Bea dan Cukai, khususnya pada Dirjen Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama yang disebut menerima uang suap sebesar 213.600 dolar Singapura agar anak buah Presiden Prabowo ini kariernya mati total,” ungkap Uchok.

Uchok juga menilai kasus ini memperlihatkan adanya kecemburuan dari institusi kepolisian terhadap semakin banyaknya personel militer yang mengisi jabatan sipil di berbagai lembaga negara. Menurutnya, kondisi ini menjadi semacam peringatan kepada Presiden Prabowo Subianto agar kepolisian tetap mendapat porsi perhatian dalam penempatan jabatan strategis, sebagaimana yang terjadi pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

“Dari kasus suap Blueray Cargo ini sudah kelihatan bahwa polisi menyimpan kecemburuan kepada tentara. Saat ini lembaga-lembaga negara mulai banyak diisi oleh kaum tentara,” katanya.

“Ini peringatan kepada Presiden Prabowo agar polisi juga harus diperhatikan oleh pemerintah seperti zaman Presiden Jokowi yang banyak mengisi jabatan sipil,” ujarnya menambahkan.

Uchok pun mengamati bahwa masyarakat sipil tidak tinggal diam menyaksikan dinamika ini. “Dan masyarakat sipil dalam konflik tentara melawan polisi cukup nonton saja. Karena saat ini Presiden Prabowo lebih percaya kepada tentara daripada polisi,” tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari KPK maupun pihak-pihak yang disebut dalam pernyataan tersebut. Seluruh pernyataan di atas merupakan pendapat dan analisis dari Uchok Sky Khadafi, serta belum merupakan fakta yang telah diputuskan melalui proses hukum.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags