Airlangga Dorong Pembiayaan UMKM Tembus Rp2.000 Triliun

- Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:40 WIB
Airlangga Dorong Pembiayaan UMKM Tembus Rp2.000 Triliun

Pemerintah tengah mendorong peningkatan target pembiayaan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi Rp2.000 triliun. Usulan ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di tengah tren pertumbuhan kredit UMKM yang mulai membaik.

Berdasarkan data terbaru, kredit UMKM pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp1.519,1 triliun, tumbuh 1,05 persen secara tahunan. Angka ini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya tumbuh 0,60 persen.

“Langkah tersebut penting untuk mengisi kesenjangan pembiayaan bagi pelaku UMKM yang memiliki potensi untuk berkembang dan naik kelas,” ujar Airlangga dalam UMKM Finance Summit 2026 di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Dengan target yang lebih tinggi, diharapkan akses pembiayaan semakin luas, terutama bagi pelaku usaha yang selama ini belum mendapatkan pembiayaan dalam skala memadai.

Digitalisasi sebagai Pengungkit

Selain memperluas pembiayaan, pemerintah juga mendorong digitalisasi untuk mengangkat UMKM. Saat ini, pengguna QRIS telah mencapai 66 juta dengan 44 juta gerai merchant. Transaksi digital dinilai mampu membentuk rekam jejak usaha yang dapat dijadikan basis credit scoring, sehingga UMKM yang sebelumnya unbankable bisa menjadi bankable.

Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), diharapkan membantu UMKM meningkatkan produktivitas dan membuka peluang pendapatan baru. Airlangga menekankan pentingnya UMKM Indonesia untuk terus meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat kemampuan mempertahankan dan memperluas pasar.

“Pengalaman negara lain dapat menjadi pembelajaran dalam membangun ekosistem UMKM yang mampu tumbuh dan berkembang berdampingan dengan pelaku usaha berskala besar,” tuturnya.

Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Di tengah berbagai risiko global, Airlangga menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Ekonomi nasional tumbuh 5,45 persen pada semester I-2026, dengan inflasi Juli 2026 terkendali di level 2,28 persen. Indeks Keyakinan Konsumen berada di level optimis 116,8, PMI Manufaktur kembali ekspansif di angka 50,2, dan cadangan devisa mencapai USD145,3 miliar.

Meski ekonomi global diproyeksikan membaik pada 2027, risiko geopolitik, energi, perdagangan, inflasi, dan volatilitas pasar keuangan masih membayangi.

Sementara itu, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 menunjukkan indeks inklusi keuangan Indonesia meningkat dari 92,74 persen pada 2025 menjadi 93,61 persen. Indeks literasi keuangan nasional juga naik menjadi 69,57 persen.

“Saya mengapresiasi terkait dengan inklusi, angkanya, literasi sudah naik, inklusi naik, tinggal kesejahteraannya bisa dikejar. Sekarang kan financial welfare yang dikejar. Jadi mereka sudah literate, sudah inklusif, punya rekening. Tapi kemampuan mereka untuk membaca, melakukan investasi dan lain-lain. Nah itu yang dikejar untuk berikutnya,” ujarnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags