MURIANETWORK.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) memutuskan untuk mengakselerasi tanam serentak seluas 50 ribu hektare di 25 provinsi. Langkah ini diambil sebagai respons cepat menjaga produksi pangan nasional. Ada beberapa alasan di baliknya: ancaman musim kemarau, plus percepatan pemulihan lahan yang terdampak bencana.
Gerakan ini digelar pada Kamis (30/4/2026). Cakupannya cukup beragam mulai dari lahan optimalisasi (oplah), cetak sawah rakyat (CSR), hingga lahan yang sempat porak-poranda akibat bencana. Titik utamanya ada di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Lumayan jauh dari pusat, tapi justru di sanalah fokusnya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menjelaskan bahwa dari total 50 ribu hektare itu, rinciannya begini: oplah tahun 2024 seluas 20.000 hektare, oplah tahun 2025 seluas 23.000 hektare, CSR tahun 2025 seluas 5.000 hektare, dan sisanya sekitar 2.026 hektare untuk rehabilitasi bencana. Tersebar di 25 provinsi, bukan perkara mudah memang.
“Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat di lapangan. Penyuluh bersama petani menjadi kunci untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan memberikan hasil optimal,” ujarnya.
Ia juga menyinggung soal alat dan mesin pertanian atau yang biasa disebut alsintan. Menurutnya, ini bukan sekadar pelengkap. “Penggunaan alsintan seperti rice transplanter, drone pertanian, dan dukungan teknologi lainnya akan mempercepat proses tanam, meningkatkan efisiensi, serta membantu petani dalam menghadapi keterbatasan tenaga kerja,” tambahnya. Agak teknis memang, tapi memang begitu kenyataannya di lapangan.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, hadir secara daring dalam acara itu. Ia menyampaikan apresiasi bukan basa-basi, katanya kepada semua pihak yang terlibat: pemerintah daerah, petani, penyuluh, sampai aparat di tingkat bawah.
“Terima kasih kepada gubernur, bupati, petani, penyuluh, hingga jajaran aparat. Ini adalah komitmen bersama untuk memperkuat swasembada pangan. Kita terus dorong tanam serempak di seluruh Indonesia,” ucapnya.
Amran juga menegaskan bahwa pengembangan areal tanam baru lewat cetak sawah dan optimalisasi lahan akan terus diperluas. Bukan cuma wacana, katanya, ini bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan produksi nasional.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, punya pandangan yang agak berbeda atau lebih tepatnya, fokus pada sisi mitigasi. Ia bilang percepatan tanam ini adalah strategi utama untuk mengantisipasi kekeringan di musim kemarau 2026. Puncaknya diperkirakan pada Agustus mendatang. Sudah ada surat edaran ke gubernur dan bupati/walikota untuk memperkuat langkah antisipasi.
“Langkah-langkah mitigasi sudah kita siapkan. Mulai dari pemantauan data iklim, pemetaan wilayah rawan kekeringan, percepatan tanam, pompanisasi, hingga penguatan infrastruktur air,” jelasnya.
Beberapa strategi utama yang didorong antara lain: percepatan tanam padi serentak di penghujung musim hujan biar airnya maksimal, pompanisasi massal untuk suplai air, dan optimalisasi lahan rawa. Soalnya, kalau lahan tadah hujan mulai kering, lahan rawa bisa jadi penyelamat.
Selain itu, benih tahan kekeringan juga mulai digalakkan. Tujuannya jelas: biar tanaman tetap kuat meski panas dan air terbatas. Ditambah lagi pembangunan infrastruktur air seperti embung, long storage, dan sumur bor. Semua itu untuk memperkuat cadangan air di lapangan.
Upaya Kementan ini ternyata mendapat sambutan hangat dari daerah. Salah satunya Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari. Ia mengucapkan terima kasih atas dukungan pusat terutama soal program oplah dan CSR. Menurutnya, dampaknya signifikan: luas tanam bertambah, bantuan sarana produksi mengalir.
“Program ini menjadi berkah bagi kami. Dengan dukungan Kementan, kami optimistis meningkatkan produksi dan berkontribusi sebagai daerah penyangga pangan nasional,” ujarnya.
Dengan sinergi antara pusat dan daerah, Kementan optimistis gerakan ini bakal mempercepat produksi, menjaga ketersediaan pangan, dan yang tak kalah penting memperkuat ketahanan pangan di tengah perubahan iklim yang kian tak menentu. Semoga saja.
Artikel Terkait
Ekonom: Fungsi APBN Bergeser, Danantara Kini Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
DPR Soroti Kelemahan Sistem di Balik Kecelakaan Kereta Bekasi, Dorong Evaluasi Keselamatan Total
Trump Kecam Iran dengan Sindiran Pedas dan Gambar AI, Negosiasi Nuklir Makin Buntu
Mahfud MD Sorot Lemahnya Pengawasan Internal TNI dan Polri dalam Kasus Andrie Yunus