Israel dengan tegas membantah keterlibatannya dalam insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI di Lebanon selatan. Ketiga prajurit itu merupakan bagian dari misi penjaga perdamaian PBB, UNIFIL. Bantahan militer Israel ini muncul di tengah-tengah penyelidikan resmi yang masih digelar oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Lewat pernyataan resminya, Israel Defense Forces (IDF) berargumen bahwa lokasi kejadian adalah area konflik aktif. Mereka merasa tuduhan yang langsung mengarah ke pasukan Israel terburu-buru dan tidak tepat.
"Oleh karena itu, tidak seharusnya diasumsikan bahwa insiden yang menimpa personel UNIFIL disebabkan oleh IDF," tegas pernyataan tersebut.
IDF juga mengklaim hasil pemeriksaan internal mereka. Menurut klaim itu, tidak ada pasukan Israel apalagi alat peledak milik mereka yang berada di lokasi saat tragedi terjadi. Intinya, Israel menegaskan diri tidak bertanggung jawab.
"Tidak ada alat peledak yang ditempatkan di area tersebut oleh pasukan IDF, dan tidak ada sama sekali pasukan IDF di area tersebut," demikian penegasan terbaru mereka.
Namun begitu, cerita dari lapangan punya narasi yang berbeda. Tiga prajurit TNI itu gugur dalam dua insiden terpisah, hanya dalam rentang 24 jam. Menurut salah satu sumber yang berbicara kepada AFP, ada dugaan kuat salah satu korban terkena tembakan yang diluncurkan Israel.
Dugaan ini bukannya tanpa alasan. Di lokasi kejadian, tepatnya di sekitar pos unit Indonesia dekat desa Adchit Al Qusayr, ditemukan puing yang diduga berasal dari peluru tank Israel. Sementara dua prajurit lainnya diduga tewas akibat ledakan ranjau saat kendaraan mereka melintas di kawasan Bani Hayyan. Selain yang gugur, sejumlah personel juga mengalami luka-luka.
Insiden berdarah ini langsung memicu reaksi keras. Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mendesak diadakannya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. Desakan itu akhirnya dikabulkan.
Pertemuan darurat pun digelar pada hari Selasa, atas permintaan Prancis. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, tak kalah keras menyuarakan kecamannya.
Ia secara khusus menyoroti tindakan Israel yang dinilai sebagai pelanggaran keamanan sekaligus bentuk intimidasi terhadap pasukan UNIFIL termasuk kontingen Prancis yang bertugas di wilayah Naqura. Situasinya jadi makin tegang, dan dunia kini menunggu hasil penyelidikan PBB yang diharapkan bisa menjernihkan segala duga dan bantahan.
Artikel Terkait
Kebijakan Konsolidasi Ekspor Lewat Danantara Dinilai Perkuat Daya Tawar dan Cegah Praktik Under-Invoicing
Sembilan WNI Misi Kemanusiaan ke Gaza Dibebaskan dari Tahanan Israel, Kini dalam Proses Pemulangan
Rocky Gerung Kritisasi Rencana 750 Batalyon Baru: Sebar Ketakutan, Bukan Rasa Aman
Penerimaan Bea Cukai Sulsel Baru 20,4 Persen dari Target, Terkontraksi Hingga 70 Persen