Lalu, bagaimana sebenarnya kronologi kejadiannya?
Semua berawal Kamis sore di Tual, Maluku Utara. Arianto, siswa MTs itu, tewas setelah diduga mengalami penganiayaan oleh Bripka Masias Sihaya. Saat itu, Sihaya dan rekan-rekannya dari Brimob sedang bertugas cipta kondisi di wilayah tersebut.
Mereka kemudian bergerak ke Desa Fiditan usai dapat laporan warga soal dugaan pemukulan di area Tete Pancing. Situasi sedang tegang.
Nah, di tengah pengamanan itu, Arianto melintas mengendarai motor bersama kakaknya. Menurut versi kronologi polisi, Masias saat itu menaikkan helm taktis yang dipakainya, mungkin sebagai isyarat. Tapi, helm itu malah mengenai pelipis Arianto. Seketika, remaja itu terjatuh dari motornya.
Dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tak tertolong. Sebuah insiden yang berawal dari isyarat, berakhir dengan duka.
Artikel Terkait
Imigrasi Ngurah Rai Deportasi Pimpinan Sindikat Pencucian Uang yang Masuk Daftar Interpol
Polisi Ungkap Motif Judi Online di Balik Pembunuhan dan Mutilasi Ibu Kandung di Lahat
Ayah di Batam Diduga Setubuhi Anak Kandungnya Sejak Usia 7 Tahun
Roti Maros, Camilan Manis Khas Sulawesi Selatan dengan Isian Selai Srikaya