Tradisi pengijazahan ini kemudian dilestarikan oleh setiap imam di Pompanua. Hingga tahun 1950-an, para parewa syara' di kampung tersebut tercatat sebagai pengikut tarekat yang sama. Syekh Abdul Majid wafat pada 1878 dan dimakamkan di Pekuburan Jara’E, Pompanua, meninggalkan warisan yang jauh melampaui masanya.
Upaya Penyelamatan Warisan Naskah yang Rapuh
Fadly Ibrahim, sebagai keturunan langsung, menyimpan dengan rapih beberapa manuskrip peninggalan leluhurnya. Namun, tidak semua kondisi naskah berusia ratusan tahun itu membaik. Ia mengungkapkan awal mula penemuan naskah-naskah tersebut.
"Naskah itu ditemukan di atas plafon, tersimpan di dalam peti. Sebagian dari manuskrip itu tidak bisa diselamatkan karena serangga," tuturnya.
Ia menambahkan dengan nada prihatin, "Mungkin karena minimnya pengetahuan dari orang tua kami dulu, sehingga manuskrip itu dianggap sebagai benda keramat sehingga kurang terawat."
Dari manuskrip yang berhasil diselamatkan, tergambar perjalanan Syekh Abdul Majid yang kembali ke Pompanua bersama istri dan saudara-saudaranya setelah tiga dekade di Mekah. Nama-nama lain juga muncul, seperti Syekh Yahya Al Bugisi yang rumahnya di Mekah menjadi tempat menulis bagi ulama Bugis, serta anak-anak Syekh Abdul Majid, Muhammad Khalifah dan Abdul Hayyi.
Namun, masih ada misteri yang mengendap. "Ada juga beberapa nama selain dari rumpun keluarga kami yang sampai saat ini kami belum tahu siapa mereka. Seperti Ibrahim. Beliau ini penulis naskah tertua yang kami simpan, ditulis sekitar tahun 1832," ungkap Fadly.
Di antara kitab yang ia simpan adalah "Dalailul Khairat" dari tahun 1860-an dan sebuah kitab lain yang ditulis oleh putra Syekh Abdul Majid, AGH Ahmad Surur, pada awal 1900-an. Sayangnya, banyak naskah lama lainnya rusak atau hilang.
"Banyak naskah-naskah lain yang ditulis beliau (AGH Ahmad Surur) dan hampir semua naskah lama disimpan dalam peti. Itu kenapa banyak manuskrip yang hilang dan rusak, karena kurangnya perawatan waktu itu," imbuhnya.
Bukti fisik lain yang menguatkan jejak keilmuan keluarga ini adalah sebuah mushaf tulisan tangan Ahmad Umar, kakak Syekh Abdul Majid. Temuan ini semakin mengukuhkan bahwa leluhur mereka pernah belajar secara mendalam di pusat ilmu Islam.
Keabsahan dan nilai historis naskah-naskah ini telah dikonfirmasi oleh peneliti. Husnul Fatimah Ilyas, peneliti litbang agama Provinsi Sulawesi Selatan, menegaskan pentingnya warisan tersebut.
"Saya kira ini adalah upaya luar biasa, bahwa dari manuskrip itu tergambar pernah ada peradaban besar di Pompanua dan ini menjadi persambungan konektivitas antara ulama satu dengan lainnya," jelasnya.
Pernyataan itu menggarisbawahi bahwa Pompanua bukan sekadar titik di peta, melainkan simpul penting dalam jaringan keilmuan Islam Nusantara yang jejaknya masih bisa dirunut hingga hari ini.
Artikel Terkait
Imigrasi Ngurah Rai Deportasi Pimpinan Sindikat Pencucian Uang yang Masuk Daftar Interpol
Polisi Ungkap Motif Judi Online di Balik Pembunuhan dan Mutilasi Ibu Kandung di Lahat
Ayah di Batam Diduga Setubuhi Anak Kandungnya Sejak Usia 7 Tahun
Roti Maros, Camilan Manis Khas Sulawesi Selatan dengan Isian Selai Srikaya