5 Masjid Bersejarah dan Ikonik Jadi Destinasi Utama Tarawih di Makassar

- Kamis, 19 Februari 2026 | 14:00 WIB
5 Masjid Bersejarah dan Ikonik Jadi Destinasi Utama Tarawih di Makassar

MURIANETWORK.COM - Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menghadirkan suasana Ramadan yang khas dan penuh makna. Setiap malam, masjid-masjid di berbagai penjuru kota ramai dikunjungi jamaah yang melaksanakan salat tarawih. Beberapa di antaranya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, keunikan arsitektur, dan atmosfer yang mendukung kekhusyukan. Berikut adalah lima masjid yang kerap menjadi destinasi utama masyarakat dan pendatang untuk menunaikan ibadah di bulan suci.

Masjid Raya Makassar: Saksi Bisu Sejarah yang Kini Megah

Masjid ini memiliki catatan sejarah yang dalam, termasuk peranannya dalam perjuangan masyarakat melawan penjajahan. Bahkan, pada masanya, bangunan ini sempat disebut-sebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Menyusul kondisi yang mulai menua, masjid ini menjalani renovasi besar pada 2009. Hasilnya, wajahnya kini tampil lebih kokoh dan modern.

Arsitektur bergaya mediterania dengan perpaduan warna krem, hijau, dan hitam menonjolkan kesan elegan. Konsep bangunan terbuka yang diterapkan tidak hanya memperlancar sirkulasi udara, tetapi juga memberikan pandangan yang lapang ke sekeliling area. Saat melangkah ke dalam, mata langsung tertarik pada hiasan kaligrafi yang mendominasi dinding dan langit-langit, menambah kesan sakral dan megah.

Alamat: Jl. Masjid Raya, Gaddong, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Masjid Al-Markaz Al-Islami: Pusat Peradaban Islam Timur Indonesia

Masjid ini dikenal sebagai salah satu yang terbesar dan termegah di Indonesia bagian timur. Lebih dari sekadar tempat salat, kompleks ini berfungsi sebagai pusat pengembangan serta kajian Islam, mencerminkan identitas religius masyarakat Sulawesi Selatan.

Dirancang oleh arsitek Ir. Ahmad Nu’man, bangunannya terinspirasi dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, namun dipadukan dengan sentuhan lokal. Atapnya yang menyerupai kuncup segi empat, misalnya, terinspirasi dari Masjid Katangka di Gowa dan rumah tradisional Bugis. Warna abu-abu dan hijau mendominasi eksterior, dengan material pilihan seperti tembaga dari Italia serta keramik dan granit.

Kapasitasnya yang mampu menampung sekitar 10.000 jamaah menjadikannya ruang yang selalu hidup dengan berbagai aktivitas keagamaan dan pendidikan.

Alamat: Jl. Masjid Raya No.57, Timungan Lompoa, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Masjid 99 Kubah: Ikon Kontemporer dengan Filosofi Mendalam

Kehadiran masjid ini telah menjadi ikon baru bagi Kota Makassar. Desainnya yang unik dan penuh warna langsung menarik perhatian. Sesuai namanya, 99 kubah yang dimilikinya terinspirasi dari Asmaul Husna, hasil rancangan arsitek Ridwan Kamil.

Warna-warna cerah seperti merah, jingga, dan kuning pada kubah-kubahnya menciptakan visual yang mencolok, diperkuat dengan bentuk bangunan bersisi sembilan yang tidak lazim. Ruang salat yang terbagi menjadi area utama, balkon, dan pelataran dapat menampung ribuan jamaah, menciptakan atmosfer kebersamaan yang sangat terasa saat tarawih.

Alamat: Jl. H. Bau No.36, Kunjung Mae, Kecamatan Mariso, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Masjid Amirul Mukminin: Ketengan Ibadah di Atas Ombak

Terletak tak jauh dari Masjid 99 Kubah, masjid ini lebih dikenal dengan sebutan masjid terapung karena posisinya yang berdiri di atas laut, tepatnya di kawasan wisata Pantai Losari. Kekokohannya ditopang oleh puluhan tiang pancang beton.

Kubah biru cerah dengan mozaik dan dua menaranya menjadi penanda visual yang mudah dikenali dari kejauhan. Meski dibangun pada 2009, daya tariknya tak pernah pudar. Desainnya mengadopsi konsep rumah panggung Bugis dengan warna dominan abu-abu dan putih.

Suasana di dalamnya terasa tenang dan sejuk, dengan gemuruh ombak yang menemani. Bangunan tiga lantai ini menawarkan pengalaman beribadah yang berbeda bagi jamaahnya.

Alamat: Jl. Penghibur No.289, Losari, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Masjid Muhammad Cheng Hoo: Simbol Akulturasi yang Harmonis

Masjid ini menjadi bukti nyata harmoni budaya dan agama di Makassar. Dibangun oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, namanya diambil untuk mengenang Laksamana Cheng Hoo, penjelajah Muslim asal Tiongkok.

Arsitekturnya merupakan perpaduan unik antara unsur Tionghoa, Timur Tengah, dan Bugis Makassar. Bangunannya menyerupai kelenteng dengan dominasi warna merah, kuning, dan putih, sementara kubahnya bertingkat menyerupai pagoda.

"Bentuk kubah tersebut melambangkan tahapan pencerahan manusia yang dalam Islam dimaknai sebagai tingkat keimanan," jelas pengelola masjid.

Detail ornamen seperti bintang segi delapan pada tangga memperindah interiornya. Keberadaan dua Masjid Cheng Hoo di Makassar dan Gowa semakin memperkuat fungsinya sebagai jembatan budaya.

Alamat: Jl. Danau Tanjung Bunga, Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar